PENGUNJUNG

Selasa, 08 Desember 2020

KEBEBASAN VS KEBABLASAN



Oleh : Miftah Husni 

Ciri masyarakat modern adalah permisif (serba membolehkan dan mengizinkan) terhadap nilai kebebasan. Menyebabkan masyarakat menjadi liar, hidup tanpa nilai. Ciri lain masyarakat modern adalah relativitas nilai. Mereka berpandangan bahwa nilai bukan suatu yang absolute termasuk nilai-nilai agama yang  datang dari sang Pencipta.  

 

Longgarnya nilai-nilai moral lama ini, nyatanya tidak hanya diyakini sebagian masyarakat kita, tapi bahkan dilegitimasi oleh pemerintah. Bila membaca salah satu poin tips dalam menjaga kesehatan reproduksi yang tertera dalam situs BKKBN, misalnya, memberikan alternative cara melakukan seksual di  luar nikah yang aman, padahal perbuatan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai lama (baca agama, etika, dan moral). Tips itu antara lain berbunyi: "Gunakan kondom, terutama jika berhubungan dengan kelompok berisiko tinggi, misalnya pekerja seks komersial."

Gaya hidup serba boleh (permisif) ini merupakan perwujudan dari kebebasan berperilaku yang merupakan salah satu pilar pemikiran liberal yang diagung-agungkan masyarakat Barat sudah menjalar kesini.

Kebebasan, liberty-freedom, dan hurriyyah merupakan tiga kata yang berasal dari bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dan memiliki arti yang sama. Aliran dan paham yang mengusung kebebasan disebut dengan paham liberalisme. Liberalisme sendiri merupakan salah satu aliran filsafat dan politik kuno namun cukup terkenal di saat ini. Dalam kamus politik, liberalisme adalah sebuah aliran filsafat yang berpondasikan keyakinan pada esensi kebebasan. Liberalisme lahir secara tidak langsung di masa renaisanse dan reformasi agama yang diprakarsai oleh Martin Luther dan Jhon Calvin. Kata liberty sendiri diambil dari bahasa latin yaitu liberte.

Berdasarkan definisi di atas, maka yang dimaksud dengan penganut liberalisme adalah orang-orang pengusung kebebasan. Dengan kata lain, liberalisme merupakan sebuah aliran yang memiliki idelogi, pandangan dan metode yang tujuan utamanya ialah menyiapkan kebebasan semaksimal mungkin bagi manusia dengan bersandar pada konsep individualisme. Manusia harus terlepas dari segala belenggu dan kekangan—lingkungan maupun sosial, bahkan syariat agama dan Allah sekalipun—dan manusia merupakan pemilik kehendaknya sendiri.

Islam tidak menentang kebebasan karena kebebasan merupakan anugrah Allah. Namun yang perlu dipertanyakan adalah kebebasan yang mana? Kebebasan insani atau hewani? Kebebasan dalam Islam ialah kebebasan yang berasaskan pada Allah sebagai poros dan tolak ukur, bukan manusia (humanisme). Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia kamulah yang memerlukan (Faqir) terhadap Allah, dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan kepada selain-Nya) lagi Maha Terpuji”.Q.s. Faathir :15

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kebebasan bukan kebebasan mutlak sehingga seseorang dapat melakukan segala sesuatu yang dikehendakinya. Karena kebebasan berkehendak dan berprilaku atas dasar hawa nafsu merupakan kebejatan, kerusakan moral dan keburukan dan bukan merupakan kebebasan insani. Selain itu, kebebasan semacam ini sama artinya dengan membatasi dan membahayakan kebebasan orang lain karena di saat ada hak di situ juga ada kewajiban. Jika seseorang berhak untuk menghirup udara sehat maka di saat itu pula orang lain berkewajiban untuk tidak melakukan pencemaran udara. Jika seorang muslim memiliki hak agar matanya tidak melihat pemandangan dosa (misalnya melihat aurat wanita yang tidak mestinya ditutupi), maka wajib bagi sang wanita untuk tidak membuka aurat di hadapannya. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa secara praktis, kebebasan mutlak tidak mungkin terealisasi.

 

Islam dan Kebebasan Individu

Kebebasan bagi kreativitas bagai jiwa bagi tubuh. Qur’an menegaskan kebebasan individu dan menggarisbawahi relevansinya sehubungan dengan keputusan-keputusan individu kita. Bahkan isu agama yang sangat penting, yakni beriman versus tak beriman kepada Allah, diserahkan pada pilihan individu:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Dan katakanlah: "KebenaranitudatangnyadariTuhanmu. Maka siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir”  Q.s. Al-Kahfi :29

Jadi, perilaku manusia dalam Islam tergantung pada kebijaksanaannya. Perselisihan antar manusia karenanya secara intrinsik tak terhindarkan dan malah diharapkan:

 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ # إِلَّا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

”Dan jika Allahmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat, tetapi mereka selalu memiliki perbedaan pendapat. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Allahmu; begitulah Allah menciptakan mereka” Q.s. Hud:118-119

Islam tidak membatasi kebebasan manusia dalam cara apapun, tapi membuat manusia bertanggung jawab, atas konsekuensi dari keputusan-keputusan mereka, baik secara individu maupun secara kolektif; seseorang harus memikirkan tindakannya dan mempertimbangkan konsekuensinya. Kemungkinan untuk berurusan dengan konsekuensi tertentu, mungkin tampaknya membatasi kebebasan individu, tapi ini memberikan keuntungan yang mendalam kepada masyarakat, karena terus-menerus menguatkan pepatah: ”Kebebasan seseorang berakhir ketika kebebasan orang lain dimulai.”maka sejalan dengan hadis Rasulullah saw., tidak merugikan dan tidak merusak, seperti ayat Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Sesungguhnya Allah tidak mengasihi orang-orang yang melampaui batas  Q.s. Al-Baqarah:190


Kedua, Islam menempatkan tanggung jawab moral yang terus-menerus di pundak kita, yang langsung berkaitan dengan hubungan dengan Allah, yang akan menuntut tanggung jawab manusia atas tindakannya di Hari Pembalasan. Oleh karena itu di dalam Islam, perzinaan, perjudian atau pun riba walau sama ridlo tetap akan berdosa dan akan diperhitungkan kelak balasannya di hari akhir.

Di dalam konsep kebebasan yang ditawarkan Islam, ada semacam upaya untuk menyeimbangkan posisi kebebasan individu sebagai individu dan kebebasan individu sebagai anggota masyarakat. Kebebasan individu tetap hadir tanpa menghilangkan hak individu ini dalam menjalani hidup bersama orang-orang sekitarnya. Contoh konkritnya dapat kita lihat ketika Nabi SAW berhasil menaklukkan Makkah. Dengan kebebasan yang dimiliki beliau, sebagai seorang pemenang tentu bisa saja Nabi menjadikan seluruh musuh-musuhnya menjadi tawanannya. Atau bahkan melenyapkan mereka. Tapi karena prinsip dasar dalam Islam mengajarkan untuk menghormati kebebasan setiap individu, maka Nabi pun tidak melakukan hal itu. Bahkan Nabi mengajak mereka untuk bersama hidup berdampingan.

Alhasil nikmatnya bermain bola karena ada aturan, seperti lapang, wasit, out dan lainnya, dan itu dibebaskan selama dalam aturan. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana bermain bola tanpa aturan dimana titik nikmatnya?. Karena tanpa aturan hakikatnya adalah KEBABLASAN BUKAN KEBEBASAN.

Dikasihi Belum Tentu Disayangi


Oleh : Miftah Husni

Allah SWT mempunyai 99 nama yang berasal dari pekerjaan dan sifat nya, dari sekian banyak nama itu, keidentikan yang menggambarkan Diri-Nya adalah kedua sifat ar-Rahman ar-Rahim. Di ayat (1:3) surat Al-Fatihah, frase ar-Rahman ar-Rahim berdiri sendiri. Tapi di ayat 1 menjadi bagian dari bismillah. Yaitu ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah, yang lengkap dengan predikat utamanya: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.  Melalui ayat ini, Allah menginformasikan kepada manusia bahwa predikat utama bagi Diri-Nya ialah ar-Rahman ar-Rahim, menjadi penegas pada ayat ke-2 bahwa Allah SWT mengurus alam semesta dan seisinya lebih didominasi oleh kedua asma ini.

Lalu apa perbedaan antara ar-Rahman dan ar-Rahim? Pertama, susunan ini (ar-Rahman ar-Rahim) tidak pernah bertukar. Tidak pernah ar-Rahim mendahului ar-Rahman.. Kedua, dalam al-Qur’an, jumlah kata ar-Rahman (57 kali) lebih sedikit daripada ar-Rahim (97 kali). Ketiga, Allah sering sekali menggunakan ar-Rahman sebagai pengganti bagi diri-Nya. . Itu tidak pernah terjadi pada ar-Rahim. Yang bisa kita tangkap dari semua itu ialah bahwa Rahman-Nya Allah mencakup seluruh realitas yang ada, sementara Rahim-Nya hanya diberikan kepada hamba-Nya yang benar-benar beriman (33:43). Rahim-Nya adalah tambahan terhadap Rahman-Nya. Tetapi meski hanya tambahan, kualitasnya jauh lebih tinggi daripada Rahman-Nya. Ini pertanda bahwa nilai orang beriman jauh melampaui semua itu. Itu juga sebabnya mengapa Allah mengatakan bahwa budak beriman lebih mulia daripada orang merdeka beserta seluruh kelebihan lahiriah mereka (2:221).

Sifat rahmat Allah yang lain adalah dekat. Kedekatan di sini memiliki hukum kausalitas, yakni yang mendekati akan didekati. Allah mendekati siapa pun yang mendekati-Nya. Jarak tempuh kita dalam mendekati Allah memengaruhi jarak tempuh Allah mendekati kita. Saat kita mendekati-Nya sejengkal, Allah akan membalas dengan sehasta. Saat sehasta, Allah mendekati kita sedepa dan seterusnya.


Turunan Kasih dan Sayang Allah SWT kepada Manusia

Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman :

''Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang senantiasa berbuat baik.'' (QS al-A'raf [7]: 56). Rasulullah SAW juga mempertegas dalam haditsnya: ''Sayangilah siapa pun yang ada di bumi maka akan menyayangimu zat yang ada di langit.' 

Bentuk kasih dan sayang terbaik sesama manusia terlihat pada hubungan orang tua dan anak, karena secara nurani tidak mungkin ada anak yang tidak menyayangi orang tuanya. Hal ini dikarenakan ada proses terima dan kasih yang sudah dimulai dari hidupnya janin di dalam rahim ibu, dimana ayah menafkahi ibu untuk kemudian dimakan dan disuplai kepada janin dengan nutrisi yang berbeda pada tiap tahap perkembangannya, bahkan sampai pada waktu ditutupnya suplai nutrisi tersebut karena plasenta telah dipotong saat dilahirkan, bayi masih mempunyai nutrisi dalam perutnya untuk satu minggu lamanya. Di sisi lain ketika dilahirkan ia menangis sebagai tanda ia mulai menghirup udara yang mengakibatkan terbukalah reaksi system pencernaan.

Setelah akil baligh, muncullah rasa terima kasih pada orangtuanya. Makanya setiap yang dilahirkan mirip dengan yang melahirkan, hal ini supaya menjadi dasar kasih sayang.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

 “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.”

Yang dimaksud dengan sikap rendah hati dalam ayat ini ialah menaati apa yang mereka perintahkan selama perintah itu tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan agama. Taat anak kepada kedua orang tua merupakan tanda kasih sayang dan hormatnya kepada mereka, terutama pada saat keduanya sangat memerlukan pertolongan anaknya. Ditegaskan bahwa sikap rendah hati itu haruslah dilakukan dengan penuh kasih sayang, tidak dibuat-buat untuk sekadar menutupi celaan atau menghindari rasa malu pada orang lain.


Hubungan Rahmat-Nya dengan Amal Manusia terhadap Surga

Dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817).

Sementara dalam beberapa ayat diterangkan bahwa amalan adalah sebab seorang masuk surga. Seperti ayat berikut,

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Syaikh Ibnu ‘Utsamin menjelaskan,

فكيف يُجمَع بين الآية وبين هذا الحديث ؟ والجواب عن ذلك: أن يقال: يُجمع بينهما بأن المنفيَّ دخول الإنسان الجنة بالعمل في المقابلة، أما المثْبتُ: فهو أن العمل سبب وليس عوضا.

“Bagaimana menggabungkan antara ayat dan hadis ini (yakni hadis Jabir di atas, pent)? Jawabannya, kedua dalil di atas bisa dikompromikan, di mana peniadaan masuknya manusia ke dalam surga karena amalnya dalam arti balasan, sedangkan isyarat bahwa amal sebagai kunci masuk surga dalam arti bahwa amal itu adalah sebab, bukan pengganti” (Syarah Riyadhus Sholihin, 1/575).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah: 218).

Ibnu Hajar rahimahullah menuliskan dalam Fathul Bari,

قال بن بطال في الجمع بين هذا الحديث وقوله تعالى وتلك الجنة التي أورثتموها بما كنتم تعملون ما محصله أن تحمل الآية على أن الجنة تنال المنازل فيها بالأعمال فإن درجات الجنة متفاوتة بحسب تفاوت الأعمال وأن يحمل الحديث على دخول الجنة والخلود فيها

Ibnu Batthol menjelaskan saat menggabungkan hadis ini (yakni hadis Aisyah yang semakna dengan hadis Jabir di atas, pent), dengan firman Allah ta’ala (QS. Az-Zukhruf : 72). Ayat ini dimaknai bahwa tingkatan di dalam surga diraih dengan amalan. Karena derajat di surga berbeda-beda,  sesuai perbedaan tingkatan amal. Adapun hadis dimaknai, sebab masuk surga atau sebab mendapatkan keabadian di dalamnya (hanya dengan rahmat Allah)” (Fathul Bari, 11/295).


 

Senin, 07 Desember 2020

Aku Ingin Bahagia

 Untuk pemaparan dalam bentuk video silahkan klik, Tonton Vide


Manusia pasti ingin hidup bahagia, damai, dan sejahtera. Ada yang bekerja keras untuk menghimpun harta, dan menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta dan kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebutnya. Menurutnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam hidup, dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak.  Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. 

Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apa pun adalah sesuatu yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Tapi, apakah yang dimaksud bahagia? Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka, bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Maka, setelah dia dapat, dia menjadi pecinta harta. Toh, setelah harta melimpah ruah, kebahagiaan itu pun tak kunjung menyinggahinya. Harta yang disangkanya membawa bahagia, justru membuatnya resah. Hidupnya penuh problema. Masalah demi masalah membelitnya. Tak jarang, harta justru membawa bencana. Kadang, harta yang ditumpuk-tumpuk, menjadi ajang konflik antar saudara.

Bahagia menurut KBBI adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Definisi ini menunjukkan bahwa bahagia itu adalah keadaan yang diciptakan dan perasaan yang ditimbulkan berupa kesenangan dan ketentraman akibat terbebasnya manusia dari segala sesuatu yang menyusahkan. Jadi secara sederhana jika manusia mau bahagia ia harus menghilangkan segala sesuatu yang menyusahkannya, dan kesusahan itu disebabkan oleh manusia itu sendiri, karena kebanyakan dari kita mematok kebahagiaan atas apa yang belum kita punya bukan pada apa yang sudah kita punyai. Jika demikian adanya maka kebahagiaan hanya milik mereka yang kaya, yang cantik dan tampan, yang memiliki jabatan tinggi dan sederetan patokan duniawi yang kebanyakan ketika belum dicapai menyusahkan untuk mendapatkannya, dan ketika sudah didapatkan menyusahkan untuk menjaga, mempertahankan bahkan untuk menambahnya. 

Kondisi bahagia berkaitan dengan mensyukuri dan mengelola nikmat sekecil apa pun, Apa yang dimaksud dengan kata ni’mat? Secara bahasa, menurut ar-Raghib al-Ashfahanidalam al-Mufradat fi Gharibil Quran, I:499, Ni’mat artinya al-haalah al-hasanah (keadaan yang menyenangkan). Sedangkan menurut Ayyub bin Musa: “Ni’mat adalah keadaan yang  dirasa menyenangkan oleh manusia” Kitab al-Kuliyyat, I:912

النِّعْمَةُ مَا أنَعَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الإِنْسَانِ

Ni’mat adalah segala sesuatu yang dianugrahkan oleh Allah kepada manusia (al-Isytiqaq, I:137, Maqayis Lughah, V:357)

Di dalam Alquran nikmat Allah terbagi menjadi dua macam yang dibedakan cara penulisannya, namun sama lagu bacaannya.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim 35)

Ni’mat yang seperti ini disebut nikmat hissi (inderawi), yaitu keni’matan yang dapat dirasakan secarafisik melalui hidung, telinga, mata, kulit, dan lidah serta psikis (jiwa). Seperti tubuh sehat, cahaya matahari, udara, dsb.

Kedua, menggunakan ta marbuthah (huruf ta nutup, atawa ta gelung saur santri madrasah mah). Bentuk kedua digunakandalam 17 ayat, di antaranya surat an-Nahl:18

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Nikmat model ini disebut ni’mat ma’nawi (abstrak), nyaitu kenikmatan yang diberikan oleh Allah karena kesolehan manusia sebagai wujud dari sifat ar-Rahiem (Maha Penyayang-Nya) Allah, yaitu berupa aturan dan pedoman hidup agar hidup selamat di dunia dan akhirat, ajaran yang dapat memberikan ketentraman hati/batin. Jadi, kenikmatan ini akan diberikan hanya kepada orang yang beriman, ketika mampu mengelola kenikmatan ini sesuai dengan ajaran Rasul. Inilah keni’matanyang dimaksud dalam ayat

 صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. Al-Fatihah:7

Imam Miskawaih dalam Mulyadi Kartanegara (2003) menyebutkan tingkatan kebahagian manusia menjadi 5 tingkatan :

1. Kebahagiaan Fisik

Bersifat sensual mencari kesenangan. Kebahagian ini menopang kebahagiaan yang lain, meskipun ia tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Karakter kebahagiaan ini bersifat fisik sehingga mudah membuat manusia lalai, selain itu karakter kebahagiaan ini sifatnya sementara  seperti kebahagiaan makan ada karena lapar, bahagia memiliki barang baru selama beberapa waktu dsb.

2. Kebahagiaan Mental

Kebahagiaan ini tidak kalah nikmatnya dengan kebahagiaan fisik, bahkan akibat dari kebahagiaan model ini sampai ada yang lupa makan, lupa minum, lupa anak istri. Bentuk kebahagiaan ini biasanya dikenal dengan hobi seperti memancing, main catur, dsb.

3. Kebahagiaan Intelektual

Implikasi dari kebahagiaan mental adalah tersiksanya jika berada dalam kesesatan dan nikmatnya mendapatkan petunjuk. Kebahagiaan ini sifatnya langgeng dan tidak ada kenyangnya, bahkan bisa lebih nikmat dari nikmatnya makan dan hobi. Kebahagian terhadap ilmu tidak berhenti walau pun sudah lulus sekolah. 

4. Kebahagiaan Moral

Mempunyai moral berarti mampu menerapkan keilmuaannya pada praktik hidup. Orang yang bermoral merasakan nikmat bukan karena tahu ilmu terhadap sesuatu tetapi, ia merasakan nikmat ketika ilmunya bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. 

5. Kebahagiaan Spiritual

Apakah orang yang bermoral baik tidak perlu sholat? Dalam Islam tentu saja wajib, kenapa?  Karena ia akan sampai pada titik kematian yang tidak akan bermanfaat lagi ilmu dan kebaikannya, maka ia menyadari bahwa atas dasar kelemahan manusia sehingga ia perlu selalu berhubungan dengan Tuhannya sehingga istiqomah dalam beramal dan berilmu, dan mendapatkan jaminan kebahagiaan yang hakiki dan abadi yang tidak ada siapa pun yang bisa menjaminnya kecuali Allah SWT, Tuhan sekalian alam. 

Ibnu Abbas seorang sahabat Rasulullah pernah ditanya tentang kebahagiaan, beliau menjawab ada tujuh tanda kebahagiaan hidup seseorang di dunia.

Pertama, qalbu syakir yaitu hati yang selalu bersyukur. Bersyukur kepada Allah dan menerima apa yang dia dapatkan untuk digunakan demi kebaikan. Orang yang pandai bersyukur maka ia akan cerdas memahami kasih sayang Allah, apapun yang diberikan-Nya selalu bernilai dan membuat dekat kepada-Nya.

Ia selalu menerima keputusan Allah dengan positif, jika ditimpa kesulitan maka ia ingat dengan sabda Rasulullah: kalau sedang dalam kesulitan, maka perhatikan orang yang lebih sulit dari dia. Bila diberi kemudahan, maka ia sadar bahwa itu adalah ujian dan semakin bersyukur, jika bersyukur maka Allah akan menambah nikmat dan kemudahan yang lebih besar daripada nikmat yang telah diterima.

Kedua, al-Azwaj al-shalihah, pasangan hidup yang saleh, menciptakan suasana rumah yang nyaman dan menurunkan keluarga yang saleh. Pada hari kiamat nanti seorang suami akan diminta tanggungjawabnya dalam membimbing istri dan anak. Tentu berbahagia menjadi istri dari suami yang saleh, yang selalu mengajak kepada kebaikan, dan berbahagia menjadi suami dari istri yang tulus selalu mendampingi.

Ketiga, al-aulad al-abrar, anak-anak yang saleh. Anak yang senantiasa berbakti dan mendoakan kedua orangtua. 

Rasulullah ketika selesai melakukan tawaf bertemu dengan seorang pemuda yang lecet dipundaknya. Kemudian beliau bertanya wahai pemuda kenapa pundakmu itu? Pemuda tersebut menjawab, aku mempunyai ibu yang sudah tua, ibuku itu tidak mau jauh dariku, aku sangat menyayanginya. aku selalu melayani dan menggendongnya ketika aku selesai salat dan istirahat.

Kemudian pemuda itu bertanya apakah dia termasuk orang yang bakti kepada orangtua. Kemudian Rasulullah menjawab, engkau termasuk anak yang saleh dan berbakti, akan tetapi kebaikan yang kamu lakukan tidak sepadan dengan cinta orangtuamu kepadamu. Cinta orangtuamu tidak terbalaskan hanya dengan itu.

Keempat, al-bi‘ah al-sholihah, lingkungan yang baik dan kondusif untuk keimanan, lingkungan yang mengingatkan dan mendorong kepada kebaikan. Mengenal siapapun untuk dijadikan teman tidaklah dilarang, namun untuk menjadikan sebagai sahabat karib haruslah orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan.

Rasulullah menganjurkan kita untuk bergaul dengan orang saleh, yaitu orang yang mengajak kebaikan dan mengingatkan jika berbuat salah. Karena orang saleh itu memiliki pancaran cahaya yang dapat menerangi orang-orang di sekelilingnya.

Kelima, al-mal al-halal yaitu harta yang halal. Islam tidak melarang orang menjadi kaya, tetapi yang penting adalah kualitas harta bukan kuantitas harta. Rasulullah bersabda:” Akan tiba suatu zaman di mana orang tidak peduli lagi terhadap harta yang diperoleh, apakah ia halal atau haram”.

14 abad lebih, setelah Rasulullah menyatakan hadis ini, kita sedang menyaksikan sebuah kenyataan dimana orang sangat berani melakukan korupsi, penipuan, penggelembungan nilai proyek, pemerasan, penyuapan, pengoplosan BBM, produksi barang bajakan, dan sebagainya. 

Banyak orang yang menjadi korban, bahkan tak jarang orang mengatakan “mencari yang haram aja sulit apalagi yang halal”. Rasulullah pernah bercerita tentang seorang yang sedang dalam perjalanan panjang, rambutnya kusut, pakaiannya kotor. Ia berdoa sambil mengangkat tangan, namun Rasulullah mengatakan bagaimana doamu dapat dikabulkan jika makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal yang kau miliki didapat dari yang haram, karena sesuatu yang haram penyebab ditolaknya doa dan ibadah.

Rasulullah itu miskin dalam artian tidak mempunya harta yang berlebih. Beliau itu ternyata kaya raya, memiliki harta yang lebih, tapi walaupun begitu hidup beliau tidak kaya atau sangat sederhana.

Mengapa demikian karena beliau zuhud dengan kekayaannya. Zuhud di sini dalam artian bukan tidak boleh memiliki harta yang berlimpah, tapi hakikatnya hati tidak terkait atau cinta dengan harta itu. Jadi kita pun patut mencontoh Rasul, kita harus kaya tapi kita tidak boleh mencintai kekayaan kita itu.

Kalau kaya kita bisa bersedakah, berinfak lebih banyak dari orang yang kekayaannya sedikit, bisa berhaji, bisa buat pesantren dan lembaga pendidikan, memberi peluang kerja bagi gelandangan dan pengemis.

Keenam, tafaqquh fi al-din, semangat mempelajari agama. Hal ini dapat diwujudkan dengan mengkaji, mempelajari dan mengamalkan ilmu-ilmu agama. Semakin belajar ilmu agama maka hidup manusia akan terarah. Hanya dengan ilmu, amal manusia bernilai pahala. Semakin belajar semakin cinta agama, semakin cinta Allah dan rasul-Nya, cinta ini yang akan mententramkan hatinya.

Ketujuh, umur yang berkah. Semakin tua semakin mulia, semakin banyak amal kebaikan, hidup yang diisi hanya untuk kebahagian lahiriah semata, hari tua akan diisi dengan kekecewaan, berangan-angan bahagia sementara tubuh semakin renta dan tidak sanggup mewujudkan angan-angan tersebut.

Hidup yang digunakan untuk mempersiapkan bekal bertemu Allah, maka semakin tua dia akan semakin bahagia, bersikap optimis. Dan tidak ada ketakutan meninggalkan dunia yang fana ini.

Sesungguhnya Allah amat sangat baik kepada para hamba-Nya. Dia menghendaki agar mereka bahagia, dunia dan akhirat. Sehingga diperintahkan apa saja yang bisa menghantarkan kepada kebahagiaan itu. Juga dilarang setiap yang bisa merusaknya. Oleh sebab itu, dikatakan kepada para mujrimin saat mereka disiksa dalam neraka, "Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Al-Zukhruf: 76)

Kebahagiaan yang paling ditekankan Islam adalah kebahagiaan akhirat, namun bukan berarti kebahagiaan dunia ditelantarkan. Tidak, bahkan kebahagiaan di dunia ini berusaha diwujudkan dalam bentuk yang sebenarnya. Yakni dengan mengabdikan diri kepada Allah semata sebagai panggilan dari fitrah diri manusia yang ia diciptakan di atasnya. Sehingga dengan itu akan mendapat ketenangan dan ketentraman. Dan ini menjadi kunci utama tercapainya kebahagiaan, sampaipun dalam musibah dan bencana. Ia jadikan musibah tersebut menjadi ladang untuk mendapatkan keutamaan dan pahala besar yang menjaminnya masuk dalam surga, yakni dengan sabar. Dan tidaklah seseorang mendapatkan surga akhirat sebelum ia mendapatkan surga dunia dalam ibadahnya.


PUNCAK NA IBADAH


Dina wanci haneut moyan ieu urang gumbira, sabab parantos tiasa ngaréngsékeun ibadah saum Romadlon salami sabulan campleng tur dipungkas ku ibadah zakat. Tapi dina dinten nu ayeuna pisan urang ogé kedah ngaraos sedih sabab urang kudu paturay papisah jeung bulan nu pepek ku rahmat katut barokah. Mudah-mudahan Alloh nampi kana ibadah urang sadaya, saum urang, sholat, katut ibadah urang anu sanésna. Taqobbalallôhu Minnâ Waminkum. Sareng mudah-mudahan Alloh Swt ngalebetkeun urang sadaya kana golongan jalma anu balik kana kasucian, sareng jalma-jalma anu meunang kabagjaan.

Nincak dina dinten nu ayeuna urang tepung jeng lebaran, lebaran dina kamus bahasa sunda mah mibanda dua harti, nu kahiji lebaran teh asalna tina kecap lebar, nyaeta matak handeueul sabab teu kaarah gunana, matak sok aya basa jeung dilelebar kitu namah mending dibikeun ka batur weh kadaharan teh. Nu kadua nyaeta asal kecap na teh tina lubar, hartina bebas. Lebaran shaum hartina lubar atawa bebasna jalma tina kawajiban ngalaksanakeun  ibadah shaum ramadhan, sedengkeun lebaran rayagung lubarna atawa bebasna jalma nu ngalaksanakeun ibadah haji tina ihram.

Ku dua harti kecap lebaran ieu, kaharti ku urang sadayana yen jalma teh aya nu ngalelebar shaum ramadhan nu campleng sabulan alatan teu ngajadikeun shaumna wasilah pikeun menang pahala, dihampurana dosa, muka panto surga, nutup panto naraka jeung ngaberengkes syetan. Ieu sakumaha unggel rasul “kam min shoimin laisa lahu min ju’in wa athosin” saluyu jeng katerangan dina hadits nu lian nyaeta, “rogima anfum riim dakhola alaihi syahrur romadhona tsuma khoroja falam yugfaru lahu”. Lamun nu shaum wae ge aya nu dilelebar shaumna komo deui nu tara shaum cag!

Lian ti kitu sabab dilelebar shaumna jalma teh ngarasa lubar, ngarasa bebas kiwari mah teu kudu nahan laparna patuangan jeung halahabna tikoro, tapi teu kabeh jalma bungah tina bebasna tina kawajiban shaum, sakumaha jalma nu bebas tina pagawean aya nu bungah alatan geus pangsiun jeung aya nu kuciwa alatan di PHK, sanajan sarua bebas tina pagawean nu hiji mah matak pikabungaheun, jeung nu hiji mah matak pikasediheun.

BACA JUGA : Memetik Manfaat Puasa Ramadhan

Sanajan urang tos bebas tina kawajiban ibadah shaum lain hartina urang kudu reureuh, ereun tina ibadah. Sabab sanajan keur sare alatan rereuh tina pagawean pan anggeur sare teh pagawean keneh, cicing oge mangrupakeun pagawean keneh. Manakomo lamun urang merhatikeun tina dawuhan Alloh SWT “fa idza farogta fanshob” lamun arandika geus beres tina migawe hiji pagawean prak geura narangtung deui (digawe deui). Jadi hakekatna mah taya kamusna pikeun urang rereuh, komo lamun urang rereuh tina jantung teu digawe apan maot tea ngarana.

Kusabab kitu sabadana bulan romadlon urang nincak kana syawwal.  Syawwal tina hiji jihat mah tina kecap syaulu hartina al-khofilu fil amali wal khidmati” nyaeta rada enteng dina migawe amal jeung pelayanan, tapi tina jihat nu lian mah syawwal teh tina kecap syaala tina irtifa’a nu mibanda harti ngaronjat. Kuduna ibadahna kaum muslimin ngaronjat dina bulan ieu alatan geus dilatih sabulan campleng dina romadhon.

Dina ngarandapan kahirupan dina alam dunya manusa sakabehna boga masalah, ieu masalah teh lahir alatan sakabeh manusa boga urusan, boga urusen jeung boga uruskeuneun. Masalah hirup nu kacida lobana ti mimiti nu ngan jangar sirah wungkul ku obat ti warung oge cageur nepi ka nu gering jeung panyakitna nu ngabutuhkeun biaya keur diubarna ngapuluh-puluh juta, kabehanana sarua palebah masalahna mah. Sangkan masalah dina hirup teu ngajadikeun mamala komo bari ngalabrak jeung ngaruksak fitrah dina agama, nya jalma teh butuh nu ngarana makhroj atawa jalan kaluarna. Jalan kaluar nu bakal jadi bekeul nyingharepan berat jeung ripuhna hirup, nyekrup jeung wahyu kalih fitrahna manusa, bekel ieu nu ku urang diikhtiaran kamari sabulan campleng teh nyaeta TAQWA, Alloh SWT ngadawuh: “wa tajawwadu, fa inna khoiru jadit taqwa” prak anjeun geura bebekelan, jeung sahade-hadena bekeul teh nyaeta kataqwaan.

Timana menangna eta kataqwaan teh? Lain menang meuli komo minjem tapi kataqwaan teh katimu tina saniskara ibadah nu dilaksanakeun ku manusa, matak cadu mungkuk haram dempak lamun aya manusa nu ngarasa taqwa bari tara ibadah tea mah. 

Puncak tina ibadah nyaeta shaum bulan Ramadhan. Sabab dina bulan ramadhan  urang diajar Pinter nempatkeun diri iraha dahar, nginum sareng ber bermujama’ah cek bahasa al-Qur’an mah urang the diajar sangkan kabimbing hirup. Katilu macam eta disusulkeun salaku aturan tina parentah dahar jeng nginum. Teu dahar ibadah, dahar oge ibadah, teu nginum ibadah, nginum oge  ibadah, mujamaah ibadah, teu mujamaah oge ibadah. yatruku tha’amahu wa syarabahu lî, Anjeun ninggalkeun dahar jeung nginum kusabab kaula (Allah) .Ternyata lamun ku urang dititenan teu aya waktos sadetik oge waktu urang anu diluar tina ibadah nalika bulan ramadhan. 

Ieu anu sabagian para ahli elmu nyebatkeun satiap ibadah shaum kudu dibarengan jeung kakhusyuan. Khusyu saperti kumaha? Lamun keur jalma di luar Islam nyarembah Tuhana kudu jelas aya diharepeun matana sorangan, dugikeun ka tempat-tempat ibadahna teh di jieun patung-patung, sareng maranehna ngarasa kacida dekeutna jeung pangeran anu disembahna. Islam ngabatalkeun cara pendekatan ka Pangeran saperti eta, eta ibadah teh batal jeung eta teh asup kana kamusrikan. 

Islam ngajarkeun kudu khusyu secara elmu. Ieu teh anu nyababkeun khusyuna ibadah teh. Pantes Rasul nganyatakeun nuntut elmuteh wajib, lain keur jelema lain tapi keur diri urang sorangan, ngarasakeun kakhusyuan kusabab kaelmuan eta.budak mun keur ulangan khusyu weh ngerjakeun teu ngareret kakatuhu atawa kenca teu kaganggu ku baturna sabab geus apal elmu jeung jawabana, nya kitu deui jalma nu ibadah kalayan mibanda elmuna, moal ngareret ka katuhu kunaon batur kitu moal ngareret ka kenca kunaon batur beda, manehna bakal khusyu sabab geus mibanda elmuna. 

lajeung elmu anu mana heula anu nyababkeun urang khusyu dina ibadah teh?

Kahiji, ngaku atawa henteu urang lahir sarta hirup lain kusabab kahayang urang. Diaku atawa hente? Tina bahan anu sarua tapi jadi mahluk anu beda ; lalaki jeung awewe. Leuwih ti eta tina bahan anu sarua naha urang teu jadi kera, padahal monyet jeung jalma tina bahan anu sarua. Naha urang jadi jelema? Naha monyet teu ngalahirkeun jelema jeung sabalikna naha jelema teu ngalahirkeun kera? Padahal tina bahan anu sarua; anu dituang ku urang jeung di hakan ku monyet sarua tina tumbuh-tumbuhan kusabab cai turun ti langit jeung ngaluarkeun tatangkalan sarta bubuahan. Anu asakan, digoreng dibeuleum terus di hakan ku ucing tapi teu jadi manusa, di tuang ku jalmi moal jadi embe, mangka tina eta lahirlah ilmu genetika atanapi ilmu katurunan, kusabab kitu urang kudu bungah ngabogaan elmu genetika atawa katurunanteh , jawabana umur urang moal anggeus pikeun ngabahas eta patarosan kusabab umur urang kacida singketna lamun dibandingkeun jeung elmu Allah anu kacida legana.

Ku elmu ieu tah tugas Rasul pikeun ngamanusakeun manusa, sabab can tangtu satiap manusa geus jadi manusa, domba geus berhasil ngalahirkeun domba, monyet geus berhasil ngalahirkeun monyet, hayam geus berhasil ngalahirkeun hayam, tapi manusa teu kabeh berhasil ngalahirkeun manusa, naon buktina? Domba mah teu apaleun ayeuna bulan romadhon, ayeuna syawal, ayeuna safar sabab kitu pagaweana nyatu weh saban waktu the, matak mun manusa nalika bulan romadhon dahar weh boa-boa can jadi manusa sabab romadhon mah waktuna teu dahar, monyet dilatih sababaraha bulan loba nu bisa shosholatan meni lucu, tapi nu ngalatihna tara sholat aya ku lucu boa-boa can jadi manusa, hayam mun nyatu tara ruang-riung, sorangan weh malah mun aya hayam lain ngadon dibintih, mun aya manusa nu ngarasa kasieunan keneh rizkina dibikeun ka batur naon bedana jeung hayam?  

Elmu keur kabagjaan akherat mah lain menang ti sakola, tapi di mana wae bisa menang salila sumberna tina gurat qur’an jeung garis hadis. Dina diajar jalan butuh guru keur digugu jeung ditiru, nyakitu deui dina agama jalma butuh nu digugu jeung ditiru. Tah ieu tugasna para Nabi jeung Rasul utamina Nabi urang Muhammad SAW.

Rasul moal diutus lamun ngan saukur pikeun muka pikiran manusa, lamun teamah tujuan hirup manusa ngan saukur kana tinggkat ngaku yen Allah teh aya. Ari ngan saukur nepika garis etamah  teu perlu Rasul, teu perlu aya Nabi, Allah geus nyadiakeun, parantos nenetpkeun bahan anu lengkap dina diri manusa lamun ngan saukur nepika ngaku yen Allah teh aya. 

Lamun urang ningali meja, mimbar, atanapi patung anu dijieuna tina kai pikiran urangmah teu rubah yen etateh kai rek dijeeun naon wae  tetep dina bahan asalna . Kusabab kitu  daripada ku nyembah patung anu dijeina tina kai lewih alus urang nyembah kaina, kusabab asli.

Ringkasna lamun urang teu iman ka Nabi Saw, terus imam urang teh saha? Lamun urang teu ridlo jadi ma’mum Rasulullah terus imam urang teh saha? Tah ieu anu engke di yaumul qiyamah Nabi calik kanggo sadaya ummat anu nuju dipariksa jeung bakal ngajawab sakabeh pertarosan anu kedah dijawab sesuai sareng pangangkanan Rasulullah Saw eta.

Mudah-mudahan ibadah shaum urang ageng atanapi alit kasaean urang sadayana ditampi sareng kasalahan urang dihampura.


*Salah sawiosna dicutat tina intisari khutbah Iedul Fitri KH. Usman Sholehudin Allahu Yarham

untuk pemaparan dalam bentuk audia klik Dengarkan khutbah

Sabtu, 05 Desember 2020

Bagaimana Cara Melakukan Shalat Istikharah


 

Syari'at Islam tidak pernah menuntut apapun kepada orang yang mengerjakan shalat istikharah kecuali hanya shalat dan berdo'a yang bisa dibaca oleh kebanyakan orang muslim. Dari sinilah para ulama menetapkan bahwa orang yang telah shalat istkharah diharapkan melakukan apa yang dia rasa paling cocok di dalam hatinya tanpa harus menunggu hasil mimpi. Dia juga tidak perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk membacakan do'a khusus untuknya. Karena sebenarnya do'a yang perlu dibaca pada waktu istikharah intinya yang berisi agar Allah memilihkan hal yang terbaik untuknya. Setelah itu hendaklah dia langsung mengerjakan hal yang dia rasa baik jika memang Allah melapangkan dadanya.

 

Dalam Fathul Bari, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan tentang makna kata “Istikharah” :


هي استفعال من الخير أو من الخيرة…..واستخار الله طلب منه الخيرة…. والمراد طلب خير الأمرين لمن احتاج إلى أحدهما“

 

Istikharah adalah bentuk istif’al dari khair atau khiyarah, sedangkan maksud beristikharah kepada Allah adalah meminta suatu pilihan kepada-Nya yaitu : meminta pilihan yang terbaik dari dua perkara untuk orang yang membutuhkan salah satu dari kedua perkara tersebut”.

 

Ulama menjelaskan bahwa istikharah dengan sholat dan doa inilah yang paling baik (afdhol), akan tetapi jika terdapat halangan (haid, dll), atau dalam masalah yang perlu disegerakan, kemudian seseorang beristikharah tanpa shalat, maka yang seperti ini tidak mengapa. Dalil lain shalat Istikharah adalah hadist riwayat Muslim yang menceritakan pada saat Zainab ra akan dipersunting leh Rasulullah saw, beliau menjawab “Aku belum bisa memberi jawaban hingga aku melakukan istikharah kepada Tuhanku. Lalu beliau memasuki tempat shalatnya dan turunlah al-Qur’an.

 

Rasulullah saw juga mencontohkan dalam sebuah hadist

 

مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَيْسَرُ مِنْ الْآخَرِ إِلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ”

 

“Rasulullah saw ketika dihadapkan dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah selama itu tidak mengandung dosa, apabila itu mengandung dosa maka beliau menjauhinya” (HR. Muslim dll).

 

Beliau pun ketika memilih sesuatu menggunakan analisa dan nalar beliau, namun selalu mengutamakan yang mudah.

 

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, dia bercerita ; ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami dalam (segala) urusan, sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an. Beliau bersabda.

 

إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (ا َوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ قَالَ : وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

 

“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan : (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Mahamengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan : “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan: “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut), Beliau bersabda : “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari

 

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan :”Shalat istikharah ini mencakup urusan-urusan besar maupun kecil. Berapa banyak masalah kecil menjadi sumber masalah besar?”

 

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :”Yang tampak bahwa shalat istikharah ini dapat dikerjakan dengan dua rakaat shalat sunnat rawatib, tahiyatul masjid, dan shalat-shalat sunnat lainnya.  

 

Al-Iraqi mengemukakan : Jika keinginan melakukan sesuai itu muncul sebelum mengerjakan shalat sunnat rawatib atau yang semisalnya, lalu dia mengerjakan shalat dengan tidak berniat untuk beristikharah, kemudian setelah shalat muncul keinginan untuk memanjatkan do’a istikharah, maka secara lahir, hal tersebut sudah mencukupi.

 

(Jika dia tidak merasa lapang untuk memutuskan pilihan atau masih ragu di antara dua perkara, apakah dia dianjurkan untuk mengerjakan shalat istikharah lagi ? Untuk  menanggapi masalah ini para ulama masih berselisih faham. Namun yang benar, tidak ada keterangan dari hadits marfu' yang menyarankan untuk mengulangi shalat tersebut. Lihat Nailul Authaar (III/90).

Dzikrul Maut #5

  (Kitab At-Tadzkiroh Bi Ahwali Mauta wa Umuri Akhirat/ Peringatan Tentang keadaan orang Mati dan urusan-urusan Akhirat/Imam Al Qurthubi) KO...