PENGUNJUNG

Sabtu, 08 September 2018

Menghargai Masa Tua



Manusia melewati tiga masa dalam hidupnya. Satu masa kekuatan yang diapit oleh dua masa kelemahan. Masa kekuatan itu adalah masa remaja yang diapit oleh masa kecil dan masa tua yang penuh kelemahan. Allah swt berfirman,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً

“Allah-lah yang Menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS.ar-Rum:54)

Tua adalah pasti dan hal itu memang benar tak terbantahkan. Secara biologis, mau tidak mau, setiap orang akan beranjak tua dengan berbagai proses biologis yang mengikutinya, kulit mulai keriput, mata mulai rabun, jalan mulai bungkuk dan lain-lain. Itu adalah proses alamiah yang tidak bisa dihindari oleh teknologi apapun (teknologi hanya membantu memperlambat, mempersehat ataupun membantu metabolisme agar dapat berjalan lebih baik lagi). Di dunia Barat seseorang dianggap tua ketika mereka mencapai umur 60-65 tahun.

Marhalah syaikhûhah (masa tua) merupakan fase terakhir yang akan dihadapi dan dialami manusia. Fase ini telah disinggung dalam Al-Qur`ân pada Surat Al-Mukmin/40 :67 yang telah dikemukakan sebelumnya:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا۟ شُيُوخًا وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوٓا۟ أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).

Mengenai batasan usia tua, Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Syaikh (orang yang tua) adalah orang yang telah melewati 40 tahun”.  Berdasarkan ini, maka siapa saja yang telah melewati usia 40 tahun hingga akhir hayatnya, ia telah berada dalam fase terakhir kehidupannya. Kehidupan manusia akan berakhir umumnya pada kisaran usia 60 hingga 70 tahun.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “أَعْمَارُ أُمَّتـِيْ مَا بَيــْنَ سِتِّيْنَ وَسَبْعِيْنَ. وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Usia umatku (umat Islam) antara 60 hingga 70 tahun. Dan sedikit dari mereka yang melewatinya”. [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah. ShahîhulJâmi’ 1073]

Dalam satu ayat Allah menyebut “masa tua” dengan istilah yang menarik dan penuh makna.

وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِن بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئاً

“Dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.” (QS.al-Hajj:5)

Masa tua dalam ayat ini disebut (أَرْذَلِ الْعُمُرِ) yang memiliki arti “masa yang tidak bernilai”. Mengapa disebut tidak bernilai?.Kita akan temukan jawabannya pada penggalan ayat selanjutnya yaitu, “sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.” Ya, usia tua disebut dengan “masa yang tidak bernilai” karena disaat itu sebagian manusia mengalami pikun atau lupa dengan sesuatu yang penah ia ketahui. Karena hilangnya pengetahuan itulah maka masa ini tidak berarti dan tak memiliki nilai.

Tapi hal ini tidak berlaku untuk semua orang yang berada pada usia tua. Karena orang-orang usia lanjut yang masih aktif dan senantiasa melakukan kebaikan umurnya masih sangat bernilai. Bahkan mereka tergolong ke dalam sabda nabi Muhammad saw,

خَيْرُكُمْ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ حَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang umurnya panjang dan amalnya baik.”

Maka dapat kita simpulkan bahwa nilai umur manusia bergantung kepada pengetahuan yang ia miliki. Tanpa pengetahuan maka kehidupannya tak bernilai sama sekali. Karena itulah masa terbaik manusia adalah masa yang selalu bergandengan dengan ilmu dan pengetahuan.

أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً

Allâh tidak akan menerima argumen kepada seseorang yang Allâh tunda ajalnya hingga mencapai 60 tahun  [HR. Al-Bukhâri no.641]

Namun meskipun sudah mengalami masa tua, ada dua hal  yang harus diwaspadai oleh manusia ketika sudah tua.

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ رَوَاهُ شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَة

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Anak Adam akan semakin tua dan semakin besar pula bersamanya dua perkara, yaitu; cinta harta dan panjang umur." Diriwayatkan pula oleh Syu'bah dan Qatadah.

Tentang orang yang tidak menyadari usia tua ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan sebuah peringatan dalam hadits berikut:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ : شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
 
Ada tigagolongan, Allah tidak berbicara kepada mereka pada hari Kiamat, tidak membersihkan mereka, dan tidak melihat kepada mereka. Dan bagi mereka siksa pedih : orang yang sudah tua tapi berzina,  penguasa yang suka bohong dan orang miskin yang sombong [HR. Muslim,  Kitabul Iman no. 172]

 [2:266] Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.

Adakah orang yang menginginkan masa tuanya sengsara? Adakah seseorang yang saat dia muda, punya banyak perusahaan dan kekayaan, lalu menginginkan agar nanti tatkala tua seluruh perusahaannya hancur tanpa dapat menikmatinya? Dan saat dia tidak mampu lagi untuk membangun perusahaannya itu? Pada saat bersamaan keturunannya belum bisa mandiri dan masih bergantung kepadanya? Lalu apakah yang dapat dia perbuat dengan tubuhnya yang sudah renta itu, dengan kemampuannya yang sudah mulai sirna itu? Sebuah gambaran yang seorang paling bodoh sekali pun tidak menginginkannya! 

Itulah gambaran akhirat! jika demikian khawatirnya manusia terhadap bayangan kebangkrutan masa tua di dunia, maka selayakanya mereka lebih khawatir lagi dengan "masa tua akhirat". Dan itulah yang terjadi pada kaum salaf, para shahabat, tabi'in, para imam dan orang-orang shalih yang menempuh jalan mereka. Jika mereka ditaqdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan rizki yang lapang (kaya), maka mereka sangat khawatir jika harta itu kelak akan mengurangi "jatah" mereka di akhirat. Sehingga mereka buru-buru menginfaqkan harta tersebut untuk sabilillah dan jalan-jalan kebaikan. Kesadaran mereka terhadap kebutuhan di akhirat sudah sedemikian besar, sehingga seluruh kemampuan mereka di dunia mereka gunakan untuk berbekal menyongsong kehidupan akhirat. Mereka telah menjual diri dan dunia mereka kepada Allah subhanahu wata’ala demi “masa tua” di akhirat, masa ketika mereka sudah tidak mampu lagi untuk beramal dan berbuat, masa ketika mereka menikmati usaha dan jerih payah di dunia. Mereka sangat khawatir jika di masa-masa ini, justru terjerumus dalam kebangkrutan dan kerugian yang besar. 

Jumat, 07 September 2018

ADAB BERTETANGGA



Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa ada interaksi dengan manusia lainnya. Maka, kehadiran tetangga dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim sangat dibutuhkan.

Adab itu berarti membersihkan dari perilaku jelek dan menghiasi dengan perilaku baik. Adab dalam agama Islam ialah yang sesuai dengan syariat karena didasarkan keimanan kerasnya nabi ibrahim terhadap berhala ayahnya adalah  adab demikian pula hukuman dan perlakuan terhadap pezina, meskipun terlihat kejam namun syariat justru menyelamatkan banyak jiwa dan keluarga dengannya.

Menjadikan manusia Indonesia beradab adalah cita-cita yang sudah lama dibangun oleh founder kita sebagaimana dalam sila kemanusian yang adil dan beradab.
Salah satu diantaranya adalah adab bertetangga, di dalamnya membersihkan hal yang dilarang agama lalu menghiasinya dengan perintah agama dalam interaksi bertetangga yang dihasilkan melalui proses pengkajian ilmu agama. 


 Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.” (QS. An Nisa: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam juga bersabda,

مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril senantiasa bewasiat kepadaku agar memuliakan (berbuat baik) kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya” (HR. Al Bukhari no.6014).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Bukan berarti dalam hadits ini Jibril mensyariatkan bagian harta waris untuk tetangga karena Jibril tidak memiliki hak dalam hal ini. Namun maknanya adalah beliau sampai mengira bahwa akan turun wahyu yang mensyariatkan tetangga mendapat bagian waris. Ini menunjukkan betapa ditekankannya wasiat Jibril tersebut kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam” (Syarh Riyadhis Shalihin, 3/177)

Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang bersebelahan secara syar’i baik dia seorang muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan. Ibnu hajar Al Asqalaaniy menyatakan: “Nama tetangga meliputi semua orang islam dan kafir, ahli ibadah dan fasiq, teman dan lawan, warga asing dan pribumi, orang yang bermanfaat dan merugikan, kerabat dan bukan kerabat dan dekat rumahnya atau jauh. Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya." [1. Lihat fathul bari 10/442]

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

 “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap sahabatnya. Tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah yang paling baik sikapnya terhadap tetangganya” (HR. At Tirmidzi 1944, Abu Daud 9/156, dinilai shahih oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 103)

Adab bertetangga dalam Islam

Memuliakan Semua Tetangga Kita

خَيْرُ ْلاَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِه ، وَخَيْرُ الْجِيْرَانِ عِنْدَاللهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِه

"Sebaik baik teman di sisi Allah adalah yang paling baik kepada teman temannya, dan sebaik baik tetangga di sisi Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya." (HR. At Tirmidzi no. 1944)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

"Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman." Mereka (para sahabat) bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari keburukan dirinya." (HR. Muslim no. 2625)

Memperhatikan Hak Tetangga (pilih yang terdekat)

Dari Aisyah dia berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki dua tetangga, kepada siapa dari keduanya aku memberikan hadiah?' Beliau menjawab, إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكَ باَباً

"Kepada yang paling dekat pintunya darimu di antara keduanya." (HR. Bukhari no. 6020).

Tidak Pelit Terhadap Tetangga

لاَ يَمْنَعْ أَحَدُكُمْ جَارَهُ أَنْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ

"Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya untuk menancapkan sebuah (kayu) di temboknya." (HR. Bukhari no. 2463 dan Muslim no. 1609)

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

"Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak sayur (daging kuah) sebaiknya perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu" (HR. Muslim). Untuk memberinya kembali ke poin 2, yaitu memilih yang terdekat dengan kita.

تَهَادُوْا تَحَابُّوْا

"Saling menghadiahilah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani di kitab Irwaul Ghalil no. 1601)

Tidak Mengganggu Tetangga Terutama Saat Istirahat

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia mengganggu tetangganya." (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Menjaga Rahasia Tetangga

أَسَرَّ إِلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِرًّا فَمَا أَخْبَرْتُ بِهِ أَحَدًا بَعْدَهُ وَلَقَدْ سَأَلَتْنِي أُمُّ سُلَيْمٍ فَمَا أَخْبَرْتُهَا بِهِ

Nabi pernah membisikkan suatu perkara rahasia kepadaku, maka hal itu aku tak akan kuceritakan kepada siapapun. Dan sungguh Ummu Sulaim pun pernah bertanya tentang rahasia tersebut, namun aku tak menceritakannya. [HR. Bukhari No.5815].

 Tidak Menutup Pintu Terhadap Tetangga

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: لقد أتى علينا زمان وما أحدٌ أحقُّ بديناره ودرهمه من أخيه المسلم، ثمّ الآن الدّينار والدّرهم أحبّ إلى أحدنا من أخيه المسلم، سمعت النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم يقول: كم من جار متعلق بجاره يوم القيامة، يقول: يا ربّ! هذا أغلق بابه دوني، فمنع معروفه

Dari Ibnu Umar dia berkata, "Sungguh telah datang kepada kami suatu zaman di mana tidak seorang pun yang lebih berhak mendapatkan dinar dan dirhamnya daripada saudaranya sesama muslim, kemudian sekarang dinar dan dirham lebih dicintai oleh seseorang di antara kita daripada saudaranya sesama muslim. Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, 'Berapa banyak tetangga yang bergantung kepada tetangganya, dia berkata, 'Wahai Rabbku, tanyalah orang ini, kenapa dia menutup pintunya dariku, lalu mencegahku mendapatkan kelebihannya." [HR. Bukhari dalam al-Adab al Mufrad no. 111]

Tidak kenyang sendiri

Nabi telah bersabda melalui hadits Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

"Bukanlah seorang mukmin (sejati) yaitu orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di samping (rumah)nya." [Lihat As Silsilah As Shahihah no. 149]

 Bersabar Terhadap Perilaku Mereka

"Sesungguhnya Allah mencintai tiga golongan dan membenci tiga golongan. Lalu beliau menyebutkan di antara mereka seorang laki laki yang memiliki tetangga yang menyakitinya, lalu dia bersabar atas gangguannya, sampai (akhirnya) Allah mencegah kejahatannya dengan sebab (proses) kehidupan (seperti berpindah tempat) atau dengan kematiannya." [Dishahihkan oleh al Albani dalam shahih at Targhib no. 2569]

[Sumber: Adab dan Akhlak Islami, Muntaqa Al Adab Asy-Syariyyah, Majid Saud Al Ausyan, Darul Haq/1/309]

MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT [KHUTBAH IEDUL ADHA]


Oleh Miftah Husni, M. I.Kom

Pada waktu iedul adha ini, ternak kurban bergelimpangan, darahnya mengalir membuat tinta merah pada bumi yang fana, setelah menunaikan baktinya, mereka melepaskan nafasnya dengan memberi banyak manfaat.

Sebelum ia disembelih ia penarik bajak sawah. Sesudah ia disembelih ia memberi makan pada manusia, kulitnya jadi pelindung alas kaki manusia, tulangnya menjadi kancing baju manusia. Segalanya bermanfaat, ia telah berkurban, menolong dan membantu manusia.

Kini rabalah diri kita, Qurban apa yang sudah diberikan kepada sesama hamba Allah? Qurban apa yang telah dibaktikan kepada Allah ?

Daging manusia tak berharga sedikitpun jika dijual di pasar. Tulang belulangnya tak berguna buat sepatu atau sandal. Maka Allah mewanti-wanti kepada manusia dalam keadaan apa ia diciptakan? وخلق الانسان ضعيفا "dan diciptakan manusia itu dalam keadaan lemah". (Q.S an-Nisaa : 27)

Allah telah menganugerahkan "kelemahan" atas manusia. Dan kelemahan itulah yang  menyebabkan menusia berkembang dan berbahagia. Sebab dalam kelemahan itulah terdapat kemajuan, modernisasi dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan teknologi. Sejak jaman nabi Adam hingga sekarang, manusia senantiasa menyingkirkan kelemahan dirinya serta kelemahan orang lain sehingga mendapat hidup lebih layak dan nikmat. Tapi sebaliknya, disebabkan sadar akan adanya kelemahan itu manusiapun dapat menjadi makhluk yang buas yang berbahaya bagi sesamanya sebagai korban untuk nafsu angkaranya. Homo humini lupus, manusia serigala bagi manusia lainnya. Islam mengajarkan agar umatnya memperhatikan kelemahan dirinya serta kelemahan sesamanya.

Pada suatu ketika Rasulullah hendak menyembelih seekor kambing. Maka pada saat itu para sahabat masing-masing mencari dan memikirkan kelemahan kawannya. Seorang sahabat berkata : يا رسول الله، عليّ ذبحها ! "wahai Rasulullah, biarlah hamba yang menyembelihnya ! Yang lain tidak tinggal diam, ia berkata: عليّ سلخها ! "biarlah hamba yang mengilitinya !. Yang lainnyapun sama tidak mau tertinggal, dan berkata : عليّ طبخها ! "biarlah hamba yang memasaknya !" Dan terakhir Rasulullah mencari kelemahan yang dapat beliau atasi, dan berkata: وعليّ جمع الحطب ! "dan biarlah aku yang mengumpulkan kayu bakarnya !"

Dari riwayat tersebut jelaslah setiap orang semestinya mencari kelemahan yang terdapat pada kawannya, kemudian setelah dipelajari, ia menyingsingkan lengan baju untuk menyiapkan qurban dirinya, mengisi kekosongan, menyingkirkan kelemahan itu baik dengan tenaga, kemampuan dan kepandaian masing-masing. Dengan diketahui  kelemahan kawan sesama hidup, terbukalah lapang untuk beramal shalih, berqurban, bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh rasa taqwa, berbakti kepadaNya.

Bahkan jika pengurus penyembelihan pun terbatas maka shaum arafah dan shalat sunnat hari ini adalah bentuk kurban seorang muslim. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya mengutip Sabda Nabi kepada Ka'b: "Wahai Ka'b! Puasa itu adalah perisai dan shalat itu adalah kurban".

Berbicara tentang kurban maka tidak lepas dari kisah kedua anak adam yaitu habil dan qabil sebagaimana direkam dalam al-qur’an al maidah 27 :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27)

Kisah mengenai mereka berdua, menurut apa yang telah disebutkan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf, bahwa Allah Swt. mensyariatkan kepada Adam a.s. untuk me­ngawinkan anak-anak lelakinya dengan anak-anak perempuannya karena keadaan darurat. Tetapi mereka mengatakan bahwa setiap kali mengandung, dilahirkan baginya dua orang anak yang terdiri atas laki-laki dan perempuan, dan ia (Adam) mengawinkan anak perempuannya dengan anak laki-laki yang lahir bukan dari satu perut dengannya. Dan konon saudara seperut Habil tidak cantik, sedangkan saudara seperut Qabil cantik lagi bercahaya. Maka Habil bermaksud merebutnya dari tangan saudaranya. Tetapi Adam menolak hal itu kecuali jika keduanya melakukan suatu kurban; barang siapa yang kurbannya diterima, maka saudara perempuan seperut Qabil akan dikawinkan dengannya. Ter­nyata kurban Habillah yang diterima, sedangkan kurban Qabil tidak diterima, sehingga terjadilah kisah keduanya yang disebutkan oleh Allah Swt. di dalam Kitab-Nya.

Dalam tafsir ibnu katsir Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas menceritakan sehubungan dengan firman-Nya: ketika keduanya mempersembahkan kurban. (Al-Maidah: 27); Mereka menyuguhkan kurbannya masing-masing, pemilik ternak menyuguhkan kurban seekor domba putih bertanduk lagi gemuk, sedangkan pemilik lahan pertanian menyuguhkan seikat bahan makanan pokoknya. Maka Allah menerima domba dan menyimpannya di dalam surga selama empat puluh tahun. Domba itulah yang kelak akan disembelih oleh Nabi Ibrahim a.s. Sanad asar ini jayyid.

Dari kisah habil dan habil ada dua sisi berbeda dimana satu sisi manusia menjadi penolong bagi kelemahan saudaranya, ini yang disebut para sosiolog bahwa manusia adalah homo humini socius, dan di sisi lain, manusia berubah menjadi pemangsa bagi manusia lainnya yang disebut sebagai homo homini lupus,  Jika semua manusia mempunyai kelemahan, maka apa yang menjadikannya pada satu sisi homo humini socius sedangkan pada sisi yang lainnya homo homini lupus?

Islam menjawab dengan satu kata IMAN. Orang yang mencuri pada dasarnya ingin menutupi kelemahan dirinya dalam masalah kebutuhan harta tetapi mengambil harta saudaranya  sendiri sehingga saudaranya  menjadi korban. Namun orang yang bekerja pada orang lain pada dasarnya menutupi kelemahan dirinya dalam kebutuhan harta dengan memanfaatkan kelemahan orang lain dalam kebutuhan tenaganya. Maka pada kasus ini saudaranya tidak menjadi korban tetapi menjadi penolong bagi saudaranya. 

Allah mengambil tamsil iman itu dari binatang ternak, yang pada hari ini kita qurbankan sebagaimana firmannya :

وإن لكم فى الانعام لعبرة نسقيكم مما فى بطونه من بين فرث ودم لبنا خالصا سائغا للشاربيين. (النحل : 66)

"Sesungguhnya untuk kalian, dalam ternak ada misal pengjaran, yaitu aku telah memberi kalian minum dari sesuatu yang dikandung binatang tersebut dalam perutnya, yang  berada di sekitar kotoran dna darah (ialah) air susu yang bersih, serta memberikan kenikmatan bagi siapa yang meminumnya"- Q.S an-Nahl : 66-

Demikianlah iman semisal susu yang dikelilingi segala kotoran dan kebusukan darah dengan tidak terpengaruh oleh bau busuk dan anyir, tapi bersih suci dan mengandung kesehatan yang menyehatkan peminumnya. Demikian pula lah semisal iman yang dikandung manusia, yang dikelilingi sekian  juta kemaksiatan hendaklah jangan terpengaruh tapi tetap dalam kesucian sebab itulah yang akan memberikan kemuliaan dan kenikmatan bagi setiap orang.

Iman adalah bibit ketaqwaan, dan kurban adalah wasilah pencapaiannya, oleh karena itu makna kurban tidak hanya sebatas udhiyyah atau sembelihan. Ar-raghib al-asfahani memberikan definisi tentang kurban sebagai berikut :

والقُرْبَانُ: ما يُتَقَرَّبُ به إلى الله وقُرْبُ العبد من الله في الحقيقة: التّخصّص بكثير من الصّفات التي يصحّ أن يوصف الله تعالى بها وإن لم يكن وصف الإنسان بها على الحدّ الذي يوصف تعالى به نحو: الحكمة والعلم والحلم والرّحمة والغنى، وقُرْبُ الله تعالى من العبد: هو بالإفضال عليه والفيض لا بالمكان

Dan kurban. Adalah segala sesuatu yang mendekatkan kepada Allah SWT, dimana bentuk kedekatan seorang hamba kepada allah adalah mengkhususkan diri dengan banyak sifat yang dimiliki Allah walau pun tidak sebagaimana Allah memiliki sifat itu pada batasannya seperti : bijaksana, ilmu, santun, penyayang dan merasa cukup. Sedangkan kedekatan allah kepada hamba-Nya adalah keutamaan dan kasih sayang dan pertolongan bukan dekat secara tempat.

Kedekatan allah terhadap hambanya dapat dicapai dengan melaksanakan amalan-amalan sunnah sebagaimana dalam hadits :

عن أبي هريرة قال: قال النبي صلّى الله عليه وسلم: «يقول الله عزّ وجلّ: أنا عند ظنّ عبدي، وأنا معه إذا ذكرني، فإن ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي، وإن ذكرني في ملأ ذكرته في ملأ خير منهم، وإن تقرّب إليّ شبرا تقربت إليه ذراعا، وإن تقرّب إليّ ذراعا تقرّبت إليه باعا، ومن أتاني يمشي أتيته هرولة» متفق عليه: البخاري في التوحيد 13/ 384، ومسلم في الذكر والدعاء برقم 2675. ما تقرّب إليّ عبد بمثل أداء ما افترضت عليه وإنه لَيَتَقَرَّبُ إليّ بعد ذلك بالنوافل حتى أحبّه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan melaksanakan apa yang telah diwajibkan padanya kemudian ia berusaha mendekatkan dirinya lagi setelah itu dengan melaksanakan amalan sunnah pasti aku akan mencintainya

Kelemahan manusia yang mendasar adalah mempunyai anak. Oleh karena itu hal ini tidak berlaku bagi Allah SWT. Pada satu sisi anak menjadi penutup kekurangan orang tuanya, namun di sisi lainnya anak menjadi penambah kekurangan orang tuanya. Hal ini yang Allah Isyaratkan dalam kisah penyembelihan Ismail sebagai Anak Ibrahim AS.

Nama nabi Ibrahim diabadikan dalam al-Quran 61 kali, melampaui nabi kita muhammad yang hanya disebut 4 kali. Demikian juga julukan yang diberikan Allah pada Nabi Ibrahim as bermacam-macam seiring dengan prestasi yang pernah diukirnya di pentas sejarah. Beliau oleh Allah diberi gelar abul anbiya' (bapak para nabi), ulul 'azmi (orang yang sabar dan teguh pendirian), dan khalilur rahman (kekasih Allah yang maha pengasih). Ia dijuluki abul anbiya' lantaran telah melahirkan para nabi dan orang-orang sholeh. Sebagaimana firman Allah: 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ (الحديد 26)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab.

Tidak banyak orang yang sukses melahirkan orang yang sukses pula. Berbeda dengan Nabi Ibrahim as yang melahirkan dua orang nabi: nabi Ismail dan Ishaq. Dari jalur nabi ismail terlahir nabi kita muhammad saw. Dan dari jalur nabi Ishaq terlahir nabi Ya'qub dan dari nabi Ya'qub ini terlahir semua nabi yang berasal dari bani Israil, sebagaimana yang ditulis Imam Ali As-shabuni dalam kitab annubuwwah wal anbiya'.

Kemudian pertanyaan yang muncul sekarang adalah apa rahasia di balik kesuksesan Nabi Ibrahim as yang melahirkan tokoh-tokoh besar tersebut. Menurut al-Quran, paling tidak ada 3 alasan:

1. Do'a yang selalu dipanjatkan.

Disebutkan dalam al-Quran bahwa dia senantiasa berdoa:

 رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (الصافات 100)

Wahai Tuhanku karuniakanlah aku keturunan yang shalih

Doa tersebut dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim as jauh sebelum beliau menikah atau sebelum mempunyai anak, beliau tak henti-hentinya meminta kepada Allah, agar dikaruniai anak yang sholeh. Beliau tidak semata meminta dikaruniai anak, tapi juga memiliki misi agar anaknya kelak menjadi anak yang sholeh, bukan anak yang kaya, cendekiawan dll. Dan beliau tidak pernah putus asa dalam berdoa, dan baru pada usianya yang ke 86 tahun Allah memberikan karunia anak yang luar biasa sebagaimana yang diminta dalam doanya.

Di samping berdoa, juga mereka perlu melakukan sesuatu yang menyenangkan orang tua seperti berbakti, membantu, memberi citra baik, supaya kelak anak kita juga melakukan kebaikan yang menyenangkan dan membanggakan kita sebagai orang tua.  Rasulullah bersabda: بِرُّوْا آبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أبْنَاؤُكُمْ (الطبرانى عن ابن عمر) Berbaktilah kepada orang tuamu niscaya anakmu akan berbakti kepadamu

2. Kepedulian Nabi Ibrahim as pada pendidikan anak-anaknya

Dalam al-Quran diceritakan:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ (إبراهيم 35)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (البقرة 132)

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam".

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (البقرة 133)

Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Ayat di atas membuktikan betapa besarnya perhatian Nabi Ibrahim as pada pendidikan anak-anaknya, dia tidak rela kalau anaknya bodoh atau berada pada jalur pendidikan yang salah. Jangan sampai terjadi, hanya karena alasan ekonomi, atau alasan pekerjaan, kita mengabaikan pendidikan anak kita dan tidak tahu menahu apa yang mereka pelajari, apa yang mereka lakukan selama ini. Sudahkah anak-anak kita mengamalkan ajaran agama secara benar? Sudahkan orang tua memberikan contoh teladan yang baik pada mereka? Kalau belum bersiaplah untuk menerima cobaan Allah melalui anak kita,

Ketahuilah bahwa pendidikan yang pertama dan utama adalah pendidikan akhlaq dan agama. Sedangkan pendidikan umum merupakan pendukung dari pendidikan agama tersebut. Terpuruknya bangsa ini bukan karena sumberdaya manusianya yang kurang cerdas, tetapi karena bobroknya moral dan akhlaq. Mereka yang tidak dilandasi akhlak, dengan ilmunya akan melakukan korupsi, penyalahgunaan jabatan, dan mereka dengan kekayaannya akan membolehkan segala cara demi meraih kekuasaan dan kepuasan nafsunya.

Banyaknya kasus kenakalan remaja seperti pergaulan bebas, narkoba, tawuran dll, terjadi akibat dari kurangnya perhatian dan pengawasan orang tua terhadap akhlaq mereka. Menurut data Depkes (2004), di Indonesia terdapat 12-19 juta orang rawan untuk terkena HIV dan diperkirakan ada 95.000-130.000 penduduk yang tertular HIV dan separoh dari jumlah tersebut korbannya adalah remaja usia 12-19 tahun. Faktor yang sangat berpengaruh pada penularan HIV/AIDS adalah perilaku seks bebas, dan penggunaan narkoba. Perkiraan pengguna narkoba saat ini adalah 1,3-2 juta orang. Dari jumlah tersebut 30-93% terinfeksi HIV. Juga Indonesia terkenal dengan tawuran pelajarnya. Tahun 2012 ini saja sudah ada 300-an kasus tawuran pelajar yang menewaskan 12 pelajar. Anehnya lokasi tawuran ini masih dekat dengan sekolah tempat mereka belajar.

Fakta ini sungguh ironis, kita semua harus bertanggungjawab terhadap masa depan mereka. Oleh karena itu kita harus berkorban harta demi pendidikan anak-anak kita, kita juga harus berkorban waktu demi mengawasi pergaulan anak-anak kita dan kita juga harus berkorban tenaga demi mengarahkan mereka menuju hal-hal postif yang diridhoi Allah swt.

3. Kepedulian Ibrahim pada kesejahteraan anak dan keluarga

Nabi Ibrahim as adalah sosok seorang bapak yang baik, dan suami yang bertanggung jawab. Demi membahagiakan keluarganya, Nabi Ibrahim as rela merantau ribuan kilometer dari Palestina ke Mesir, dan itu dilakukan beberapa kali meskipun kondisi alam yang tandus dan panas. Sebagaimana diungkapkan dalam doa Nabi Ibrahim as: 

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (إبراهيم 37)

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

Rasulullah menyatakan bahwa seseorang yang bekerja keras guna mencari rizki yang halal untuk keluarga, dinilai oleh Allah sebagai sadaqah yang tertinggi. Dalam hadis beliau bersabda:

وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ ، أعْظَمُهَا أجْراً الَّذِي أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ . رواه مسلم .

Satu dinar dari harta yang engkau nafkahkan untuk keluargamu merupakan pahala yang paling besar di sisi Allah

Jatuhnya perekonomian dunia saat ini, berdampak pada banyaknya gelombang PHK di mana-mana, sehingga banyak pengangguran. Data kompas menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terbuka sebanyak 11,6 juta orang. Meskipun demikian, sebagai seorang muslim kita tidak boleh berputus asa, dan sebaliknya harus bangkit singsingkan lengan untuk menatap hari esok dengan penuh optimisme dan harapan baru yang lebih baik. Allah berjanji, selama seseorang berusaha secara maksimal di jalan Allah, pastilah ia akan menemukan jalan kesuksesan. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (العنكبوت 69)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Maka dari kisah penyembelihan Nabi ismail oleh Nabi Ibrahim hingga digantikannya oleh seekor kambing dapat kita ambil hikmah bahwasanya kelemahan manusia terletak pada sesuatu yang disayanginya, namun melalui sebuah pengorbanan, apa yang disayanginya akan menjadikan wasilah datangnya kasih sayang dari Allah SWT.

Manusia Mahluk Istimewa

Manusia makhluk istimewa dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Karena ternyata pada manusia ada unsur-unsur makhluk lain, tetapi pada makhluk lain tidak ada unsur-unsur kemanusiaan. Jika kita amati secara seksama benda-benda atau makhluk ciptaan Tuhan yang ada di sekitar kita, mereka memiliki unsur yang melekat padanya, yaitu unsur benda, hidup, naluri, dan akal budi.

  1. Makhluk Tuhan yang hanya memiliki satu unsur, yaitu benda atau materi saja. Misalnya, batu, kayu, dan meja.
  2. Makhluk Tuhan yang memiliki dua unsur, yaitu benda dan hidup. Misalnya, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan.
  3. Makhluk Tuhan yang memiliki tiga unsur, yaitu benda, hidup, dan naluri/ instink. Misalnya, binatang, temak, kambing, kerbau, sapi, dan ayarn.
  4. Makhluk Tuhan yang memiliki empat unsur, yaitu benda, hidup, naluri/instink, dan akal budi. Misalnya, manusia merupakan makhluk yang memiliki keunggulan dibanding dengan makhluk yang lain karena manusia memiliki empat unsur, yaitu benda, hidup, instink, dan naluri.

Lalu kenapa bisa unggul, padahal secara khalqiyyah manusia itu sama dengan hayawanat lainnya. Jelas memang, secara khalqiyyah, hanya dari segi fisik, manusia itu sama. Tetapi pada manusia kehebatannya itu karena ada unsur khuluqiyyah-nya.

Walaupun manusia mempunyai potensi unggul, tetapi, pada umumnya manusia itu mudah tersimpangkan oleh sesuatu yang mudah terlihat dan terdengar. Tidak heran, kalau laki-laki mencari calon istri, yang pertama kali dilihatnya itu apakah cantik atau tidak? Begitupula perempuan, yang pertamakali dilihatnya apakah tampan atau tidak?

Jadi, yang pertama diperhatikan itu adalah apa yang terlihat oleh mata dan  apa yang terdengar oleh telinga. Padahal, mata dan telinga suka salah. Kalau mata dan telinga suka salah yang meluruskannya siapa? Perasaan? Kalau perasaan salah yang melurusakannya apa? Akal? Kalau akal salah yang meluruskannya apa?

Sudah kita maklumi bersama, bahwa mahluk Allah itu bermacam-macam. Ada yang disebut Jamaadat, nabatat, jinnat dan hayawanat. Diantara mahluk-mahluk Allah itu ada yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lain.

Jamaadaat, Mahluk ini disebut jamadaat karena mahluk ini tidak bisa hidup, bergerak, menetap dalam satu tempat, karena lafadz jamadat diambil dari kata jamid yang artinya diam, oleh karena itu mahluk ini bisa disebut juga benda mati. Kenapa disebut mahluk Allah karena sama-sama diciptakan oleh Allah.

Nabatat, Mahluk ini disebut nabatat, karena dia itu hidup akan tetapi tidak aktif, salah satu ciri bahwa mahluk ini hidup, ia bisa tumbuh yang tadinya bibit menjadi besar Cuma tidak bisa bergerak secara aktif saja, oleh karena itu mahluk ini suka dikenal dengan ungkapan nabati.

Jinnat, Mahluk ini disebut jinnat karena dia tidak bisa dilihat oleh panca indra, karena lafadz jinnat pecahan dari kata jinnun yang memiliki arti terhalang atau tertutup. Diantara mahluk yang termasuk kedalam kelompok ini ialah para malaikat, iblis, dan jin, oleh karena itu kalau ada yang mengatakan bisa melihat mahluk ini bohong besar, karena akan bertentangan dengan du'a Nabi Sulaiman yang berbunyi :

وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لاَ يَنْبَغِيْ لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيْ

Dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. (QS. Shaad : 35)

Dan hadits Nabi yang berbunyi :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ  قَالَ: إِنَّ عِفْرِيتًا مِنْ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ فَذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِي سُلَيْمَانَ رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي قَالَ رَوْحٌ فَرَدَّهُ خَاسِئًا

Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi saw bersabda : Sesungguhnya Ifrit itu termasuk golongan jin, ia menggangguku dengan kalimat yang salah supaya sholatku menjadi batal, jika Allah menghendaki aku bermaksud mengikatnya pada salah satu tiang masjid sampai pagi sehingga kamu sekalian bisa melihatnya, tapi aku ingat ucapan saudaraku Sulaiman yang berbunyi "Ya Tuhanku anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku". Rouh berkata : Kemudian Nabi melepaskannya. (al-Bukhari, Fathul-Baari : 2/218)

Artinya kedua dalil ini menjadi satu arahan tentang tidak mungkinnya seorang manusia bisa melihat jin apalagi bisa mengendalikannya. Makanya wajar imam Syafi'I mengatakan :

مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يَرَى الْجِنَّ أَبْطَلْنَا شَهَادَتَهُ، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ نَبِيًّا

Barang siapa yang berkata sesungguhnya pernah melihat jin kami menganggap batal syahadatnya, kecuali Nabi. (Manaqib asy-Syafi'i, Fathul-Baari : 6/497)

Hayawanat , Mahluk ini disebut hayawanat karena dia itu hidup bergerak secara aktif, yang termasuk kedalam mahluk ini ialah binatang dan manusia.

Perbedaan binatang dan manusia 

Binatang

Mahluk ini menempati ruang dan waktu, akan tetapi tidak mengenal ruang dan waktu. Sebagai cirinya belum pernah ditemukan kalau domba mau kencing mencari dulu kamar mandi dan belum pernah terdengar ada ungkapan sarapan pagi, makan siang dan makan malam, makanya bagi domba tidak mengenal dalam kandang dan di luar kandang salah satu cirinya dia kencing disitu makan disitu, dan bagi domba dia makan itu bukan karena ingin tapi karena lapar, oleh karena itu dia hidup itu hanya untuk mati. Mahluk ini hanya mengandalkan fisik.

Manusia

Mahluk ini bukan hanya menempati ruang dan waktu, tapi mengenal juga ruang dan waktu. Sebagai cirinya ketika dia mau mandi suka mencari tempat mandi, dan bagi manusia suka ada ungkapan sarapan pagi, makan pagi dan makan malam, bagi manusia ketika dia makan ternyata bukan karena lapar tapi karena ingin. Makanya bagi manusia dia hidup itu untuk hidup.

Mahluk ini ternyata tidak hanya sebatas pisik saja tetapi dia mengandalakan akalnya, makanya kalau hanya sebatas pisik saja dia akan kalah dengan bintang dan tidak bisa mempertahankan hidup. Oleh karena itu wajar kalau dalam al-Quran disebutkan

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْ ءَادَمَ

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. (QS. al-Israa : 70)

Dengan akalnya manusia bisa menciptakan alat yang bisa mengalahkan kekuatan gajah, dengan akalnya manusia bisa menciptakan alat yang bisa mengalahkan ke9cepatan kuda, dengan akalnya pula manusia bisa menciptakan alat yang bisa menandingi terbangnya burung. Tapi akibat dari budidaya akal, manusia bisa akal-akalan, seperti terjadinya penindasan/penjajahan yang dilakukan kepada Negara kita pada waktu lalu, dikarnakan kita pada waktu itu belum mempergunakan akal kita sebagaimana mestinya, kita mau saja dibodoh-bodohi oleh penjajah, akan tetapi setelah kita mengfungsikan akal kita sebagaimana mestinya kita sanggup mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. 

Oleh karena itu apakah bagi manusia hanya mengandalkan akalnya saja cukup? Tentu tidak, sebab akal tanpa ada yang mendidiknya akan salah menempatkan. Oleh karenanya wajar kalau seandainya Allah menjelaskan dalam al-Quran yang berbunyi :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. al-Hujuraat : 13)
   
Dengan ungkapan ini menunjukkan bahwa pada diri manusia bukan hanya wujud fisiknya saja akan tetapi ada juga wujud ruhaninya. Oleh karena itu wajar kalau Allah mengutus seorang Rasul untuk mendidik ruhani kita, sebab ruhani yang terdidik oleh agama bisa mengendalikan akal kita fisik kita, makanya wajar dalam sebuah hadits disebutkan :

لاَيَزْنِي الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِيْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Seorang pezina tidak akan melakukan perzinahan selama keimanannya masih ada. (al-Bukhari, Fathul-Baari : 5/413)


Setiap orang pasti tidak suka kalau jatuh martabat dan rugi. Bukan saja sekedar tidak suka, melainkan sangat-sangat tidak suka. Seperti ditegaskan dalam Al-Qur’an, manusia merupakan makhluk yang paling baik, paling lengkap, paling luhur keterciptaannya dibandingkan dengan makhluk yang lain ( At-Tin [95]: 4).

Hanya manusia yang memiliki hubungan antara badan kasar dengan pikirannya, hubungan antara badan kasar dengan perasaannya, dan hubungan antara badan kasar dengan keyakinannya. Jika pikirannya (inteligensinya) berjalan normal, maka sehat badan kasarnya, jika perasaannya (emosinya) terganggu, maka terganggulah kesehatan badan kasarnya, dan jika lurus dan kuat keyakinannya (spiritualnya), maka tampak tegar penampilan hidupnya. Kebenaran hubungan-hubungan ini semuanya dapat dibuktikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, benar kalau dikatakan bahwa manusia itu memiliki martabat yang paling baik, paling lengkap dan paling luhur kalau dibandingkan dengan makhluk lain. Seperti makhluk hewan (hayawanat), makhluk tumbuh-tumbuhan (nabatat), dan makhluk benda beku (jamadat: benda padat, cair, dan gas)

Sungguhpun demikian, Allah SwT juga mengingatkan, bahwa manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang “mudah lupa”, yang karena itu disebut dengan istilah insaan (At-Tin [95]: 4). Lupa tentang apa?

Pertama, lupa terhadap hal-hal yang remeh dan memang hal-hal yang remeh tersebut tidak perlu dingat-ingat. Contoh: lupa tentang berapa kilogram beras yang telah dimakan selama ini, berapa ribu liter air yang pernah melalui kerongkongannya, berapa ribu meter kubik udara yang pernah lewat paruparunya, berapa ribu kilometer kakinya telah dipakai untuk berjalan, berapa ribu jam tidur yang telah dialaminya, dan berapa liter urine yang telah dikeluarkan selama ini.

Kedua, lupa terhadap hal-hal yang penting yang kalau hal-hal tersebut dilupakan, maka seseorang lalu dinilai melenceng dari tata nilai (benar menjadi salah, baik menjadi buruk, indah menjadi jelek, manfaat menjadimudlarat/merusak). Contoh: lupa terhadap rumus ilmu, lupa terhadap berbakti kepada orangtua, lupa terhadap kerapihan, dan lupa menjaga diri dari minum minuman keras.

Ketiga, lupa terhadap hal yang mutlak penting yang kalau sampai ditinggalkan, maka seseorang akan kehilangan pegangan hidup. Dalam hal ini adalah jika lupa terhadap Tuhan.

Jika sifat “lupa” ini, khususnya lupa yang kedua dan ketiga, sampai dikerjakan dengan sengaja oleh seseorang apalagi dibiasakan maka menurut Al-Qur’an, orang semacam itu akan dijatuhkan martabatnya oleh Allah SwT ke martabat serendah-rendahnya, (At-Tin [95]: 5).

Selanjutnya, manusia juga sangat tidak suka terhadap apa yang disebut rugi. Semua manusia sangat senang kalau merasa memiliki untung. Hakikat untung di sini adalah bertambah, sedangkan hakikat rugi adalah berkurang, dalam arti berkurang dari apa yang diinginkan untuk dimiliki. Contoh: Orang merasa sangat senang kalau bertambah kekayaan ilmunya atau makin tajam analisanya, orang akan merasa sangat senang kalau bertambah tinggi pangkatnya atau kuat kekuasaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah kekayaannya, orang akan sangat senang kalau bertambah sehat atau kebugaran tubuhnya, dan sebagainya. Tetapi, lagi-lagi manusia diingatkan Al-Qur’an, bahwa dirinya selalu diberi cobaan penyakit “lupa” di atas. Sebab, ayat Al-Qur’an yang berbicara dalam konteks masalah “rugi” ini juga memakai kata “insaan” ketika menyebut dunia manusia (Al-’Ashr [103]: 2). Jadi, kalau sampai manusia menjadi “lupa” (lupa model, kedua dan ketiga di atas), maka manusia tersebut pasti akan mengalami apa yang disebut “rugi”.

Mengapa firman Allah berikut ini diawali oleh, “amanar rasulu bima unzila ilaihi min rabbihi wal mu’minuna? Ini menunjukan bahwa Rasul pun dituntut iman karena apa yang diturunkan kepadanya adalah masalah ghaib.

Dari sanalah bagaimana menghadapi dan menyikapi Bima unzila ilaihi min rabbihi. Apa yang harus kita hadapi itu? Apa alatnya? Apakah hanya sekadarkhalqun? Mustahil. Atau yang harus kita gunakan itu alatnya khuluqun?


Selasa, 21 November 2017

REZEKIMU PERANTARA IBADAH DAN MAKSIAT-MU



Oleh Miftah Husni

Mengenai hakikat rizki harus difahami berdasarkan realitas makna lafaz dan syara’nya, baik yang diambil berdasarkan pengertian bahasa maupun syara’. Lafadz  ar-Rizq, dalam bahasa Arab berasal dari  Razaqa-Yarzuqu-Rizq  yang berarti: A’tha-Yu’thiI’tha’(pemberian). Jadi, secara etimologis ar-Rizq berarti pemberian. secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu(bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain. Adapun menurut terminologis/istilah,"rizki adalah Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak."

Rezeki berbeda dengan kepemilikan. Kepemilikan adalah penguasaan sesuatu dengan tatacara yang diperbolehkan syariah untuk menguasai harta. Jadi, rezeki itu mencakup rezeki yang halal maupun yang haram. Inilah yang menjadi pendapat Ahlus Sunnah sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam al-Qurthubi. Semuanya dikatakan sebagai rezeki. Harta yang diambil penjudi dari lawannya dalam perjudian adalah rezeki. Sebab, rezeki yang halal ataupun haram itu adalah harta yang diberikan oleh Allah ketika seseorang berbuat untuk melangsungkan kondisi yang di dalamnya bisa diperoleh rezeki. Rezeki seorang hamba telah dijamin oleh Allah. Porsi dan takarannya juga telah ditetapkan.Jika hamba itu memintanya dengan jalan yang halal ataupun dengan jalan yang haram, Allah berikan. Namun, Allah akan menanyai tatacara perolehan dan pembelanjaan harta itu.

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat hingga ia ditanya: umurnya dia habiskan untuk apa; ilmunya diamalkan untuk apa; hartanya dari mana ia peroleh dan dibelanjakan untuk apa’;dan tubuhnya digunakan untuk apa (HR at-Tirmidzi).

Jadi, Jangan takut tidak akan mendapatkan rezeki, karena rezekilah yang akan menemukan kita, tapi jangan lupa juga bersabar menantinya agar cara datangnya tidak jadi tuntutan kelak di hari kiamat.

إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya ruh qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya.” (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits shahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866)

Coba renungkan perkataan Ibnu ‘Abbas berikut ini. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
ما من مؤمن ولا فاجر إلا وقد كتب الله تعالى له رزقه من الحلال فان صبر حتى يأتيه آتاه الله تعالى وإن جزع فتناول شيئا من الحرام نقصه الله من رزقه الحلال

“Seorang mukmin dan seorang fajir (yang gemar maksiat) sudah ditetapkan rezeki baginya dari yang halal. Jika ia mau bersabar hingga rezeki itu diberi, niscaya Allah akan memberinya. Namun jika ia tidak sabar lantas ia tempuh cara yang haram, niscaya Allah akan mengurangi jatah rezeki halal untuknya.” (Hilyatul Auliya’, 1: 326)

rezeki itu merupakan taqdir kauni, sebagaimana firman-Nya :

أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

”Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya ? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman” [QS. Az-Zumar : 52].

Tingkatan rezeki menurut al-Qur’an :

1.      Tingkat rezeki pertama, yaitu yang dijamin oleh Allah

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا … (6)

“Tidak suatu binatangpun (termasuk manusia) yg bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allah rezekinya.”(QS. Hud: 6).

2.      Tingkat rezeki kedua, yaitu yang didapat sesuai dengan apa yang diusahakan

وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى (39)

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” (QS. An-Najm: 39).

3.      Tingkat rezeki ketiga, yaitu rezeki lebih bagi orang-orang yang pandai bersyukur

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (7)

“… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

4.      Tingkat rezeki keempat, yaitu rezeki istimewa dari arah yang tidak disangka-sangka bagi orang-orang yang bertakwa dan bertawakal pada Allah SWT

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْراً (3)

“…. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yg tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.Ath-Thalaq:2-3)

Dengan rezeki tingkatan pertama kita masih bisa hidup tapi hidup kita tidak bedanya dengan hidup binatang melata. Dengan tingkatan kedua kita akan lebih banyak mendapatkan rezeki dan memenuhi berbagai kebutuhan dan kesenangan kita namun, kita tidak beda dengan orang kafir, nah, baru dengan rezeki tingkatan ketiga, kita mendapatkan rezeki di luar prediksi perhitungan akal dan usaha kita namun kita sudah bersyukur dan syukur itu tidak lain adalah ibadah, tingkatan yang keempaat adalah kenikmatan tertinggi, karena bersifat kejutan. Dan kejutan biasanya akan didapatkan dari yang sangat menyayangi kita, makanya tidak heran orang yang bertaqwa banyak mendapatkan kejutan karena ia sangat disayangi Tuhan-Nya.

Dzikrul Maut #5

  (Kitab At-Tadzkiroh Bi Ahwali Mauta wa Umuri Akhirat/ Peringatan Tentang keadaan orang Mati dan urusan-urusan Akhirat/Imam Al Qurthubi) KO...