PENGUNJUNG

Rabu, 16 Desember 2020

GERAKAN AKHIR SHALAT DAN DZIKIR SESUDAHNYA


GERAKAN AKHIR SHALAT

Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdiri dari rakaa’t yang kedua. Hal ini berdasarkan hadits Nafi yang menyebutkan :

أن بن عمر كان إذا دخل في الصلاة كبر ورفع يديه وإذا ركع رفع يديه إذا قال سمع الله لمن حمده رفع يديه إذا قام من الركعتين رفع يديه رفع ذلك بن عمر إلى نبي الله صلى الله عليه وسلم

“ Bahwasanya Abdullah bin Umar ra, jika melakukan sholat memulai dengan takbir dan mengangkat kedua tangannya. Jika hendak ruku’ mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengucapkan“ sami’allahulimanhamidah “ mengangkat kedua tangannya. Dan jika bengkit dari raka’at yang kedua, beliau mengangkat kedua tangannya . Dan Ibnu Umar mengatakan itu dari nabi Muhammad saw .“ ( HR Bukhari )

 أَنَا كُنْتُ أَحْفَظُكُمْ لِصَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ وَفِيْهِ قَالَ: فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الْيُمْنَى وَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الا خْرَى وَ قَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Aku paling hafal di antara kalian tentang shalat RasulullahShallallahu ‘alaihiwasallam….” Dalam hadits tersebut, Abu Humaid mengatakan, “Apabila duduk dalam rakaat kedua, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki yang kanan. Apabila beliau duduk pada rakaat yang terakhir, beliau mengedepankan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang lain (kaki kanan) serta duduk di atas pantat beliau.” (HR. al-Bukhari no. 828)

(Do`aketikasebelumsalam)

 اللهم انى اعو ذ بك من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومنفتنة المحيا و الممات ومن شر فتنة المسيح الد جالالبخارى:93/2

“Ya Alloh sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari siksaan api neraka, dan dari siksaan alam kubur, dan dari fitnah sewaktu masih hidup di dunia dan sesudah mati, dan dari kejelekan pembohong Dajjal”.(HR.AlBukhoriy,juz 2,hal 93)

Dan diriwayatkan pula oleh Abu Daud (966) dan lainnya, dari Ibnu Mas’ud RA:

 

 اَنَّ النَّبِيَّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِيْنِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، حَتَّى يَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ 

Bahwasanya Nabi SAW mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, sampai dapat dilihat pipinya yang putih: “Assalamu’alaikum Warahmatullah; Assalamu’alaikum Warahmatullah. Kata at-Tirmidzi, hadits Ibnu Mas’ud ini hasan shahih.

عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ

”Mengapa kalian mengangkat tangan kalian, seperti keledai yang suka lari? Kalian cukup letakkan tangan kalian di pahanya kemudian salam menoleh ke saudaranya yang di samping kanan dan kirinya. (HR. Muslim 430, Nasai 1185, dan yang lainnya).


Dzikir sesudah Sholat

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Dari Tsauban ia berkata : “keadaan Rasulullah SAW apabila telah selesai dari sholatnya ia beristighfar 3 kali dan membaca “allohuma Anta Salam waminka Salam tabarakta ya dzal jalali wal ikram. Al-Walid Berkata :”maka aku bertanya kepada Auza’I bagaimana cara beristighfarnya ia berkata Rasul membaca Astaghfirullah Astaghfirullah” (HR Muslim no 931)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ– مسلم

Dari Abi Hurairah dari Rasulullah SAW ”Barangsiapa yang bertasbih  di akhir sholat 33 kali, dan bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali, maka seluruhnya 99 kali dan berkata sempurnakanlah menjadi 100 dengan membaca la ilaha illah llah wahdahu la syarika lah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syaiin qodir” akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan(HR Muslim no 939)

يَاايُّهَا النَّاسُ كُلُكُمْ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلاَ يَجْهَرُ بَعْضُكُم عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ

“Artinya :Wahai sekalian manusia, masing-masing kalian bermunajat (berbisik-bisik) kepada Rabb kalian, maka janganlah sebagian kalian men-jahar-kan bacaannya dengan mengganggu sebagian yang lain. (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id Al-Khudriyrodhiyallahu ‘anhu)

عن محمد بن أبي بكر الثقفي أنه سأل أنس بن مالك وهما غاديان من منى إلى عرفة: كيف كنتم تصنعون في هذا اليوم مع رسول الله ، فقال: كان يهل المهل منا فلا ينكر عليه ويكبر المكبر منا فلا ينكر عليه

“Dari Muhammad bin Abu Bakar Ats Tsaqafi, bahwa ia pernah bertanya kepada sahabat Anas bin Malik Rodhiallahu ’anhu tatkala ia bersamanya berjalan dari Mina menuju ke padang Arafah: Bagaimana dahulu kalian berbuat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa Salam pada hari seperti ini? Maka beliau menjawab: Dahulu ada dari kami yang membaca tahlil, dan tidak diingkari, dan ada dari kami yang membaca takbir, juga tidak diingkari.” (Riwayat Muslim 2/933, hadits no: 1285)

Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata:

 قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة

“Rasulullah Shallallahu ‘AlaihiwaSallam berkata kepada kami: “Hendaknya kalian bertahlil, bertasbih, dan bertaqdis (mensucikan), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari, karena itu semua akan ditanya dan diajak  bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat.” (HR. At Tirmidzi No. 3583, Abu Daud No. 1501, Ahmad No. 27089, AthThabrani, Al Mu’jam Al Kabir No. 180, lihat juga  Ad Du’a, No. 1662, Musnad Ishaq bin Rahawaih No. 2327, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi,Kanzul ‘Ummal No. 2006)

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat) :Allahummaa’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].”(HR. Abu Daud no. 1522.Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih

Jumat, 11 Desember 2020

Bangkit dari Sujud Menuju Rakat kedua dan Tasyahud Awwal


عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ.

Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wail bin Hajar. Wail mengatakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah ketika hendak sujud, maka beliau meletakkan kedua lututnya sebelum meletakkan kedua tangannya. Dan ketika beliau bangkit, maka beliau mengangkat kedua tangan sebelum mengangkat kedua lututnya. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, 838,

رَأَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بن عُمَرَ وَهُوَ يَعْجِنُ فِي الصَّلاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ

“Saya melihat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, melakukan ‘ajn ketika shalat, bertumpu dengan kedua tanganya ketika hendak berdiri.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath dari Al-Azraq bin Qais,).

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا. [رواه البخارى والترمذى والنسائى وأبو داود]

Artinya: "Bahwa ia (Malik ibn al-Huwairits) melihat Nabi saw shalat, maka apabila beliau berada pada raka'at ganjil (raka'at 1 dan raka'at 3) dari shalatnya beliau sebelum berdiri duduk dulu sehingga lurus duduknya." [HR. al-Bukhari, at-Turmudzi, an-Nasai dan Abu Dawud dari Malik ibn al-Huwairits]

Setelah berat badan Rasulullah bertambah berat, dan tenaganya kurang, maka ruku dan berdiri dari sujud tidak kuat dengan cepat, Rasulullah bersabda :

لَاتُبَادِرُوْنِى بِالْقِيَامِ وَلَا بِالْقُعُوْدِ فَاِنِّى قَدْ بَدَنْتُ (فتح البارى)

“Kamu (para ma;mum) jangan mendahului aku (tunggulah aku) dalam bangkit berdiri dan dalam duduk, sesungguhnya aku telah tambah berat badanku (sudah lanjut umur)-                     -Fath’l Bari 2 : 241-

Ibnul mundir meriwayatkan dari Abi A’yasy :

اَدْرَكْتُ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنْ اَصْحَابِ النَّبِىِّ ص. فَكَانَ اِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الْسَجْدَةِ فِى اَوَّلِ رَكْعَةٍ وَفِى الثَّالِثَةِ قَامَ وَلَمْ يَجْلِسْ .رواه ابن ابى سيبة .1:347 .

“Aku sejaman dengan banyak  sahabat nabi, bila mereka  bangkit mengangkatkan kepala dari rakaat pertama dan rakaat ketiga, mereka berdiri dan tidak duduk istirahat”.

Keterangan tersebut menunjukan bahwa di jaman Abi A’yasy sebahagian sahabat yang ia saksikan tidak melakukan duduk istirahat, dan keterangan itu merupakan bantahan bagi yang melakukan, di jaman ba’da sahabat.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِـ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَلَمْ يَسْكُتْ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah bangkit ke rakaat kedua, beliau mulai bacaannya membaca: ‘Alhamdulillahi rabbil ‘alamin..’ dan tidak diam. (HR. Muslim Dari Abu Hurairah)


TASYAHUD AWWAL

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي  الرَّكْعَتَيْنِ ا وْألُْ لَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ. فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيْمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجَدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zuhur mengimami mereka (para sahabat) shalat. Setelah rakaat kedua, beliau bangkit berdiri tanpa duduk (tasyahud awal). Orang-orang pun bangkit bersama beliau. Ketika beliau telah menyelesaikan shalat dan orang-orang menanti salam beliau, ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam. Setelahnya, barulah beliau salam.” (HR. al-Bukhari no. 829 dan Muslim no. 1269)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e ... كَانَ يَقُوْلُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ، وَكَانَ يَفْرُشُ رِجْلَهُ اليُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ اليُمْنَى، وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبِ الشَّيْطَانِ، وَكَانَ يَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرُّجُلُ ذِرَاعَيْهِ إِفْتِرَاشَ السَّبُعِ، وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيْمِ. - رواه أحمد ومسلم وأبو داود

 “Dari Aisyah, ia mengatakan,”Adalah Rasululah saw... mengucapkan   At-Tahiyat pada  tiap rakaat. dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menancapkan kaki kanannya. Beliau melarang seseorang duduk cara syetan. Dan beliau melarang seseorang menghamparkan dua sikutnya seperti menghamparnya binatang buas. Dan beliau menutup shalatnya dengan salam.” - H.R. Ahmad,Muslim dan  Abu Daud -

 أَنَا كُنْتُ أَحْفَظُكُمْ لِصَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ وَفِيْهِ قَالَ: فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الْيُمْنَى وَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ ا خْألََرَى وَ قَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

“Aku paling hafal di antara kalian tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam….” Dalam hadits tersebut, Abu Humaid mengatakan, “Apabila duduk dalam rakaat kedua, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki yang kanan. Apabila beliau duduk pada rakaat yang terakhir, beliau mengedepankan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang lain (kaki kanan) serta duduk di atas pantat beliau.” (HR. al-Bukhari no. 828)

عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ أَنَّهُ قَالَ فِي صِفَةِ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ e ، ثُمَّ قَعَدَ فَإفْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ كَفَّهُ اْليُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ وَرُكْبَتِهِ اْليُسْرَى وَجَعَلَ حَدَّ مِرْفَقِهِ اْلأَيْمَنِ عَلَى فَخِذِهِ اْليُمْنَى ثُمَّ قَبَضَ ثِنْتَيْنِ مِنْ أَصَابِعِهِ وَحَلَقَ حَلْقَةً، ثُمَّ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا .  -رواه أحمد والنسائي و أبو داود -

Dari Wail bin Hujr bahwa ia berkata tentang shalat Rasulullah saw.,”kemudian beliau duduk, maka beliau menghamparkan kaki kirinya dan menyimpan tangan kiri diatas paha dan lutut kirinya, dan beliau menjadikan ujung sikutnya yang kanan diatas paha kanannya. Kemudian beliau menggenggamkan dua jarinya dan membuat lingkaran, kemudian mengangkat telunjuknya dan aku melihatnya menggerak-gerakannya, beliau berdua dengan itu. - H.R.Ahmad, An-Nasai dan Abu Daud -عَنِ إبْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : عَلَّمَنِي رَسُوْلُ اللهِ e التَّشَهُّدَ كَفِّيْ بَيْنَ كَفَّيْهِ كَمَا يُعَلِّمُنِي السُّوْرَة من القزآنِ : التَّحِيَّاتُ ِللهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّا لِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.- رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ -

Dari Ibnu Masud, ia mengatakan,’Rasulullah saw. mengajari ku Tasyahhud, tanganku diantara kedua tangannya sebagaimana beliau mengajar kami Surat Alquran : segala Penghormatan, segala salawat dan segala yang baik-baik adalah milik Allah, salam sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Allah serta berkah-berkahNya, Salam sejahtera pula atas kami dan semua hamba Allah yang saleh, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad hambaNya dan utusanNya. -H.R. Al-Jama’ah -

وَعَنِ إبْنِ عَبَّاٍس قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ e يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَكَمَا يُعَلِّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ االْقُرْأَنِ فَكَانَ يَقُوْلُ : التَّحِيَّاتُ االْمُبَارَكَاتَُالصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ. - رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَأَبُوْ دَاوُدَ

 “Dan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, Keadaaan Rasululah saw. mengajar kami tasyahhud sebagaimana ia mengajar kami surat dari Al-quran, beliau mengucapkan, Segala penghormatan yang diberkahi dan segala salawat yang baik adalah milik Allah, salam sejahtera atasmu wahai Nabi dan Rahmat Alah serta berkah-berkahNya, Salam sejahtera pula atas kami dan semua hamba Allah yang saleh, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.” - H.R. Muslim dan Abu Daud -

عَنْ فُضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ سَمِعَ النَّبِيُّ  e رَجُلاً يَدْعُوْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَي النَّبِبِّي . فَقَالَ النَّبِيُّ  e عَجِلَ هَذَا ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ  لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ : إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ  e ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ مَا يَشَاءُ . - رواه الترمذي وصححه -

Dari Fudalah bin Ubaid, ia mengatakan,”Nabi saw. mendengar seorang laki-laki sedang berdoa di dalam shalatnya dan tidak bersalawat atasnya. Maka Nabi saw. bersabda,’Tergesah-gesah sekal’ Kemudian ia memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada yang lainnya,’Bila salah seorang diantara kalian shalat, maka mulailah dengan memuji Allah, kemudian salawatlah atas Nabi, kemudian berdualah sesukamu”. - H.R. At-Tirmizi dan beliau mensahihkannya -

عَنْ أَبِيْ مَسْعوْدٍ قَالَ : أَتَانَا رَسُوْلُ اللهِ e وَ نَحْنُ فِي مَجْلِسِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ : فَقَالَ لَهُ بَشِيْرُ بْنُ سَعْدٍ : كَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ : فَسَكَتَ رَسُوْلُ اللهِ e حَتَّى تَمَنَّيْنَا أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْهُ. ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e : قُوْلُوْا : أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحّمَّدٍ وَعَلَى أَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَالسَّلاَمُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ . - رواه أحمد ومسلم والنسائي والترمذي وصححه -

 “Dari Abu Mas’ud  mengatakan,”Rasululah saw. datang kepada  kami dan kami berada di majlis Saad bin Ubadah. Basyir bin Saad bertanya kepadanya,’ Allah swt telah memerintah kami untuk salawat kepadamu bagaimana salawat kepadamu itu?’ Maka berliau diam sehingga kami merasa bahwa beliau tidak ditanya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda,’Ucapkanlah oleh kalian,’Ya Allah berikanlah salawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berikan salawat kepada keluargaIbrahim. dan berkahilah Muhammad serta keluarga Muhamad sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji Maha Mulya”. - H.R.Ahmad,Muslim, An-Nasai dan At-Tirmizi dan beliau mensahihkannya

 

 

 

TATA CARA TURUN KE SUJUD DAN DUDUK DIANTARA KEDUA SUJUD

 

TATA CARA TURUN KE SUJUD

Mendahulukan dua lutut dari dua tangan.

أنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا نَهَضَ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ (الترمذي 248(

“Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  apabila sujud beliau letakkan dua lututnya sebelum dua tangannya dan bila bangkit beliau angkat dua tangannya sebelum dua lututnya”.( HR Jama’ah kecuali Ahmad )Dari Abu Hurairoh bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 إِذَا سَجَداحدكم فليبدأَ برُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْه ولايبرك كبروك الفحل ( رواه البيهقى )

“Apabila salah seorang diantaramu hendak sujud maka mulailah dengan meletakan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan jangan lah ia turun seperti unta yang berderum”  ( HR Baihaqi )

dariAnas bin Malik RA :انه صلّى الله عليه وسلم انحط با التكبير فسقطت ركباه يدا ه“Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bila hendak turun ke sujud dengan bertakbir dan kedua lututnya mendahului kedua tangannya.” ( HR Ad Daruqutni, Al Hakim dan Al Baihaqi )

سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير وليضع يديه قبل ركبتيه.

“Apabila salah seorang di antara kalian sujud, maka janganlah turun untuk sujud sebagaimana menderumnya onta, dan hendaklah ia meletakkan dua tangannya sebelum dua lututnya” (HR. Ahmad 2/381; Abu Dawud no. 840; An-Nasa’I no. 1090).

 

Kaifiyat sujud

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ

“Aku di perintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang (anggota sujud); Kening –dan beliau menunjuk hidungnya- kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari jemari dari kedua kaki. Dan saya diperintahkan untuk tidak menahan rambut atau pakaian.”(HR. Al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 490)

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَالِكٍ اِبْنِ بُحَيْنَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ اِبْطَيْهِ. البخارى

Dari ‘Abdulalh bin Malik yaitu Ibnu Buhainah, ia berkata, "Sesungguhnya Nabi SAW apabila shalat (ketika sujud), beliau merenggangkan dua tangannya (dari rusuknya) sehingga kelihatan putih kedua ketiaknya". [HR. Bukhari juz 1, hal. 197]

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ. مسلم

Dari Baraa', ia berkata :Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kamu bersujud, maka letakkanlah dua tapak tanganmu dan angkatlah dua sikumu". [HR. Muslim juz 1, hal. 356]

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص اِذَا رَكَعَ فَرَّجَ اَصَابِعَهُ وَ اِذَا سَجَدَ ضَمَّ اَصَابِعَهُ. البيهقى

Dari ‘Alqamah bin Waail bin Hujr dari bapaknya, ia berkata, “Adalah Nabi SAW apabila ruku', beliau merenggangkan jari-jari tangannya, dan apabila sujud, beliau merapatkan jari-jari tangannya”. [HR. Baihaqi juz 2, hal. 112]

عَنْ اَبِى حُمَيـْدٍ اَنَّ النَّبِىَّ ص كَانَ اِذَا سَجَدَ اَمْكَنَ اَنْفَهُ وَ جَبْهَتَهُ مِنَ اْلاَرْضِ، وَ نَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَ وَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ. ابو داد و الترمذى و صححه، فى نيل الاوطار

Dari Abu Humaid, ia berkata, "Adalah Nabi SAW apabila sujud, beliau menekankan hidung  dan dahinya ke bumi, dan menjauhkan dua tangannya dari dua lambungnya serta meletakkan dua tapak tangannya sejajar dengan dua bahunya". [HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi menshahihkannya, dalam NailulAuthar, juz 2, hal. 287]

 

KeteranganTambahan

Kedua telapak tangan diletakkan sejajar dengan kedua telinga( وَسَجَدَ فَوَضَعَ يَدَيْهِ حَذْوَ أُذُنَيْهِ. HR. Ahmad) atau dalam redaksi yang lain: wajahnya diletakkan di antara kedua telapak tangannya (وَضَعَ وَجْهَهُ بَيْنَ كَفَّيْهِ  HR. Ibn Hibbân, atau: يَسْجُدُ بَيْنَ كَفَّيْهِ  / سَجَدَHR. Ahmad, Muslim) di mana jari-jemarinya dirapatkan (ضَمَّ أصابِعَه HR. Ibn Hibbân, al-Thabrâni, Ibn Khuzaymah) dan dihadapkan ke arah qiblat (HR. Al-Bayhaqi dan Ibn Abi Syaybah). Nabi saw juga tidak menjadikan kedua lengannya sebagai alas dan tidak pula menggenggam kedua tangannya( وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلاَ قَابِضِهِمَا. HR. Al-Bukhâri, al-Bayhaqi), tapi menuntunkan agar mengangkat kedua siku dari lantai (وارْفَعْ مِرْفقَيْكَ.HR. Muslim, Ahmad, dan Abu ‘Awwânah) dan merenggangkan keduanya (فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ) dari ketiak dan lambungnya (Muttafaq ‘alayh), dan juga merenggangkan kedua pahanya (فَرَّجَ بَيْنَ فَخِذَيْهِ), tapi tidak menempelkan perutnya pada kedua pahanya (HR. Abu Daud dan al-Bayhaqi, dari Abu Humayd). Nabi saw menuntun kan supaya mengangkat pantatnya (رَفَعَ عَجِيزَتَه. HR. Ahmad, dari al-Barrâ’), namun tidak boleh berlebih-lebihan dengan memanjangkan sujud hingga perutnya mendekati lantai (جَخَّي). Yang jelas, Nabi saw menganjurkan supaya proporsional pada saat sujud (اعْتَدِلُوا فيِ السُّجُود), dan jangan seperti binatang buas atau anjing (Muttafaq ‘alayh). Adapun posisi kedua telapak kaki, ditegakkan di mana ujung jari kedua kaki dihadapkan ke qiblat (وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ. HR. Al-Bukhâri, al-Bayhaqi), tanpa dirapatkan.

 

2. Bacaan Sujud

Bacaan sujud yang dituntunkan oleh Nabi SAW itu banyak macamnya, diantaranya sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُكْثِرُ اَنْ يَقُوْلَ فِى رُكُوْعِهِ وَ سُجُوْدِهِ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ رَبَّنَا وَ بِحَمْدِكَ اللّهُمَّ اغْفِرْلِى، يَتَأَوَّلُ اْلقُرْآنَ. الجماعة الا الترمذى، فى نيل الاوطار

Dari 'Aisyah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW memperbanyak membaca di dalam ruku' dan sujudnya Subhaanakalloohumma robbanaa wabihamdikalloohummaghfirlii (Maha Suci Engkauya Allah, Tuhan kami dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku), yaitu beliau mengamalkan perintah Al-Qur'an :

فَسَبّحْ بِحَمْدِ رَبّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ   [HR. Jama'ah, kecuali Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 275]

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ ص ذَاتَ لَيْلَةٍ. فَافْتَتَحَ اْلبَقَرَةَ … ثُمَّ رَكَعَ فَجَعَلَ يَقُوْلُ: سُبْحَانَ رَبّيَ اْلعَظِيْمِ. فَكَانَ رُكُوْعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ. ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، ثُمَّ قَامَ طَوِيْلاً قَرِيْبًا مِمَّا رَكَعَ. ثُمَّ سَجَدَ فَقَالَ: سُبْحَانَ رَبّيَ اْلاَعْلَى. فَكَانَ سُجُوْدُهُ قَرِيْبًا مِنْ قِيَامِهِ. مسلم

Dari Hudzaifah, ia berkata :Saya pernah shalat bersama Nabi SAW pada suatu malam. (Setelah membaca Al-Fatihah) maka beliau memulai dengan membaca surat Al-Baqarah … kemudian beliau ruku’ dan membaca Subhaanarobbiyal ‘adhiim. Dan ruku’ beliau lamanya seperti berdirinya. Kemudian beliau membaca Sami’alloohulimanhamidah, kemudian berdiri lama, hamper sama dengan lama ruku’nya. Kemudian beliau sujud dan membaca Subhaanarobbiyala’laa, dan adalah sujud beliau hamper sama dengan lama berdirinya. [HR. Muslim juz 1, hal. 536]

 Tata Cara 

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda kepada orang yang jelek shalatnya:

ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk, Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu.” (HR. Al-Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397)

Dari Al-Barra’ bin Azib -radhiallahu anhu- dia berkata:

كَانَ رُكُوعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنْ السَّوَاءِ

 “Lama ruku’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sujudnya, ketika mengangkat kepala dari ruku (i’tidal), dan ketika duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama lamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 801 dan Muslim no. 724)

Duduk iftirasy adalah posisi duduk dengan membentangkan kaki kiri, kemudian diduduki dan kaki kanan ditegakkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا سجدت فمكن لسجودك فإذا رفعت فاقعد على فخذك اليسرى

“Apabila kamu sujud, sujudlah dengan meletakkan semua anggota sujud, dan jika kamu bangkit untuk duduk, duduklah dengan bertumpu pada kakimu yang kiri.” (HR. Bukhari dan Baihaqi) Posisi jati-jari tangan ke arah kiblat

Umar bin Khatab mengatakan,

مِنْ سُنَّةِ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَمَ الْيُمْنَى، وَاسْتِقْبَالُهُ بِأَصَابِعِهَا الْقِبْلَةَ وَالْجُلُوسُ عَلَى الْيُسْرَى

“Termasuk sunah dalam shalat (ketika duduk), kaki kanan ditegakkan, mengarahkan jari-jari tangan ke arah kiblat, dan duduk di atas kaki kiri.” (HR. Nasai dan dishahihkan Al-Albani)

c) Bacaan Ketika Duduk Di Antara Dua Sujud

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiallahu anhu- dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ رَبِّ اغْفِرْ لِي رَبِّ اغْفِرْ لِي
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat duduk di antara dua sujud mengucapkan: “RABBIGHFIRLI RABBIGHFIRLI (Wahai Rabbku ampunilah aku, wahai Rabbku ampunilah aku).” (HR. Ibnu Majah no. 897 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` no. 335)

- اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَعَافِنِيْ وَارْزُقْنِيْ وَارْفَعْنِي.

“Ya Allah, ampunilah dosaku, berilah rahmat kepadaku, tunjukkanlah aku (ke jalan yang benar), cukupkanlah aku, selamatkan aku (tubuh sehat dan keluarga terhindar dari musibah), berilah aku rezeki (yang halal) dan angkatlah derajatku.” HR. Ashhabus Sunan, kecuali An-Nasai. Lihat Shahih Tirmidzi 1/90 dan Shahih Ibnu Majah 1/148.

 

 



Dzikrul Maut #5

  (Kitab At-Tadzkiroh Bi Ahwali Mauta wa Umuri Akhirat/ Peringatan Tentang keadaan orang Mati dan urusan-urusan Akhirat/Imam Al Qurthubi) KO...