PENGUNJUNG

Rabu, 02 Desember 2020

Ibadah Ko Bugil! Dasar Jahiliah

 Untuk pemaparan dalam bentuk video silahkan klik Tonton Video


{يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31) }

Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al - Araf : 31)


Ayat yang mulia ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik, yakni tradisi melakukan tawaf dengan telanjang bulat yang biasa mereka lakukan.
Seperti yang disebutkan di dalam riwayat Imam Muslim, Imam Nasai, dan Ibnu Jarir. Sedangkan lafaznya berdasarkan apa yang ada pada Ibnu Jarir, diriwayatkan melalui hadis Syu'bah, dari Salamah ibnu Kahil, dari Muslim Al-Batin, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu kaum pria dan wanita melakukan tawafnya di Baitullah dalam keadaan telanjang bulat. Kaum pria melakukannya di siang hari, sedangkan kaum wanita pada malam harinya. Salah seorang wanita dari mereka mengatakan dalam tawafnya: Pada hari ini tampaklah sebagiannya atau seluruhnya; dan apa yang tampak darinya, maka tidak akan saya halalkan. Maka Allah Swt. berfirman: pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid. (Al-A'raf: 31)

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid. (Al-A'raf: 31), hingga akhir ayat. Bahwa dahulu (di masa Jahiliah) kaum lelaki biasa tawaf sambil telanjang. Maka Allah memerintahkan mereka untuk memakai pakaian yang indah-indah (setelah masa Islam).

budaya wanita Arab terdahulu adalah ketelanjangan, buka-bukaan aurat, dan bersolek.

Allah ta’ala berfirman:

وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

“Dan apabila mereka melakukan perbuatan fahisyah, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya” (QS. Al A’raf: 28).

Ayat ini bicara tentang kebiasaan orang Arab jahiliyah yang suka thawaf di Ka’bah sambil bertelanjang bulat. Al Qurthubi dalam Tafsir-nya mengatakan:

الفاحشة هنا في قول أكثر المفسرين طوافهم بالبيت عراة

“Fahisyah dalam ayat ini menurut mayoritas ulama tafsir adalah kebiasaan (orang Arab jahiliyah) thawaf di Baitullah sambil telanjang”.

Mereka menganggap perbuatan ini baik dan merupakan kesucian. Mujahid rahimahullah menjelaskan:

قال: كانوا يطوفون بالبيت عراة, يقولون: ” نطوف كما ولدتنا أمهاتنا “, فتضع المرأة على قُبُلها النِّسعة أو الشيء

“Dahulu orang Arab jahiliyah thawaf di Baitullah sambil telanjang. Mereka berkata: “kami thawaf dalam keadaan seperti ketika dilahirkan oleh ibu kami”. Kaum wanitanya menutup bokongnya dengan lengannya atau benda lain” (Tafsir Ath Thabari, no. 14462).

Dan mereka taqlid kepada tradisi nenek moyang serta berbuat bid’ah dengan menganggap bahwa hal ini merupakan perintah Allah. Maka dalam kelanjutan ayat Allah membantahnya:

قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang fahisyah”. Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al A’raf: 28).

Oleh karena itu dahulu Nabi dan para sahabat berusaha menghilangkan tradisi hina ini di kalangan orang-orang Arab secara perlahan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah mengutus Abu Bakar radhiallahu’anhu ‘anhu untuk berhaji dan mengumumkan kepada orang-orang di Baitullah:

أَنْ لاَ يَحُجَّ بَعْدَ العَامِ مُشْرِكٌ وَلاَ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ

“Ketahuilah, setelah tahun ini tidak boleh ada orang musyrik yang berhaji dan tidak boleh ada orang yang thawaf dalam keadaan telanjang” (HR Bukhari no. 369, Muslim no. 1347).

Selain itu, Allah ta’ala berfirman:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)

Ayat ini menunjukkan, wanita Arab jahiliyah suka tabarruj, yaitu membuka-buka aurat, bersolek dan memperlihatkan keindahan-keindahan mereka.

Yang dimaksud dengan istilah الزِّينَةُ dalam ayat ini ialah pakaian, yaitu pakaian yang menutupi aurat, terbuat dari kain yang baik dan bahan lainnya yang dapat dijadikan pakaian. Mereka diperintahkan untuk memakai pakaiannya yang indah di setiap memasuki masjid.

Berdasarkan ayat ini dan hadis yang mengutarakan masalah yang semisal, disunatkan memakai pakaian yang indah di saat hendak melaku­kan salat, terlebih lagi salat Jumat dan salat hari raya. Disunatkan pula memakai wewangian, karena wewangian termasuk ke dalam pengertian perhiasan. Juga disunatkan bersiwak, mengingat siwak merupakan kesempurnaan bagi hal tersebut.
Pakaian yang paling utama ialah yang berwarna putih, seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang dinilai sahih oleh Imam Ahmad sampai kepada Ibnu Abbas dengan predikat marfu':

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيم، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ، فَإِنَّهَا مِنْ خير ثيابكم، وكَفِّنوا فيها موتاكم، وإن خَيْرِ أَكْحَالِكُمُ الإثْمِد، فَإِنَّهُ يَجْلُو الْبَصَرَ، وَيُنْبِتُ الشَّعْرَ".

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Sa'id ibnu Jubair, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda; Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, karena sesungguh­nya pakaian putih adalah pakaian terbaik kalian, dan kafankanlah dengannya orang-orang mati kalian. Dan sesungguhnya sebaik-baik celak kalian memakai ismid, karena sesungguhnya ismid itu dapat mencerahkan pandangan mata dan menumbuhkan rambut.

{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا}

makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. (Al-A'raf:31)
Imam Bukhari mengatakan, Ibnu Abbas berkata bahwa makna yang dimaksud ialah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا بَهْز، حَدَّثَنَا هَمّام، عَنْ قَتَادَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْب، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِي غَيْرِ مَخِيلة وَلَا سرَف، فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى نِعْمَتَهُ عَلَى عَبْدِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Makan, minum, berpakaian, dan bersedekahlah kalian tanpa dengan kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah suka bila melihat nikmat-Nya digunakan oleh hamba-Nya.

{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا}
makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. (Al-A'raf:31)

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَحَلَّ اللَّهُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ الْأَكْلَ وَالشُّرْبَ مَا لَمْ يَكُنْ سَرَفًا أَوْ مَخِيلَةً . فَأَمَّا مَا تَدْعُو الْحَاجَةُ إِلَيْهِ، وَهُوَ مَا سَدَّ الْجَوْعَةَ وَسَكَّنَ الظَّمَأَ، فَمَنْدُوبٌ إِلَيْهِ عَقْلًا وَشَرْعًا، لِمَا فِيهِ مِنْ حِفْظِ النَّفْسِ وَحِرَاسَةِ الْحَوَاسِّ، وَلِذَلِكَ وَرَدَ الشَّرْعُ بِالنَّهْيِ عَنِ الْوِصَالِ، لِأَنَّهُ يُضْعِفُ الْجَسَدَ وَيُمِيتُ النَّفْسَ، وَيُضْعِفُ عن العبادة، وذلك يمنع منه الشرع وتدفعه الْعَقْلُ. وَلَيْسَ لِمَنْ مَنَعَ نَفْسَهُ قَدْرَ الْحَاجَةِ حَظٌّ مِنْ بِرٍّ وَلَا نَصِيبٍ مِنْ زُهْدٍ، لِأَنَّ مَا حُرِمَهَا مِنْ فِعْلِ الطَّاعَةِ بِالْعَجْزِ وَالضَّعْفِ أَكْثَرُ ثَوَابًا وَأَعْظَمُ أَجْرًا.

Imam Bukhari mengatakan, Ibnu Abbas berkata bahwa makna yang dimaksud ialah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Saur, dari Ma'mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan, "Allah menghalalkan makan dan minum selagi dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak untuk kesombongan." Sanad asar ini berpredikat sahih.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا بَهْز، حَدَّثَنَا هَمّام، عَنْ قَتَادَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْب، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا، فِي غَيْرِ مَخِيلة وَلَا سرَف، فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى نِعْمَتَهُ عَلَى عَبْدِهِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Makan, minum, berpakaian, dan bersedekahlah kalian tanpa dengan kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah suka bila melihat nikmat-Nya digunakan oleh hamba-Nya.

وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ، مِنْ حَدِيثِ قَتَادَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلة"
Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Qatadah, dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Makan, bersedekah, dan berpakaianlah kamu sekalian tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ سُلَيْمٍ الكِناني، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ جَابِرٍ الطَّائِيُّ سَمِعْتُ الْمِقْدَامَ بن معد يكرب الْكِنْدِيَّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، حَسْبُ ابْنِ آدَمَ أَكَلَاتٌ يُقِمْنَ صُلبه، فَإِنْ كَانَ فَاعِلًا لَا مَحَالَةَ، فَثُلْثٌ طعامٌ، وَثُلُثٌ شرابٌ، وَثُلُثٌ لِنَفَسَهِ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Salim Al-Kalbi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Jabir At-Tai; ia telah mendengar Al-Miqdam ibnu Ma'di Kariba Al-Kindi bercerita bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tiada suatu wadah pun yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih jahat daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang sulbinya. Dan jika ia terpaksa melakukannya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya.

فِي قِلَّةِ الْأَكْلِ مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ، مِنْهَا أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ أَصَحَّ جِسْمًا وَأَجْوَدَ حِفْظًا وَأَزْكَى فَهْمًا وَأَقَلَّ نَوْمًا وَأَخَفَّ نَفْسًا.

Sedikit makan itu mengandung banyak manfaat, diantaranya tubuh seseorang menjadi lebih sehat dan lebih cemerlang hafalannya, juga lebih bersih pemahamannya, juga menjadikan sedikit tidur dan lebih ringan pada jiwa.

وَيُذْكَرُ أَنَّ الرَّشِيدَ كَانَ لَهُ طَبِيبٌ نَصْرَانِيٌّ حَاذِقٌ فَقَالَ لِعَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ: لَيْسَ فِي كِتَابِكُمْ مِنْ عِلْمِ الطب شي، وَالْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمُ الْأَدْيَانِ وَعِلْمُ الْأَبَدَانِ. فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: قَدْ جَمَعَ اللَّهُ الطِّبَّ كُلَّهُ فِي نِصْفِ آيَةٍ مِنْ كِتَابِنَا. فَقَالَ لَهُ: مَا هِيَ؟ قَالَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ: "وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا".

Dan diterangkan bahwasanya Ar Rasyid mempunyai dokter nashrani yang cerdas, lalu dia berkata pada Ali bin Al Husain : tidak ada dalam kitab kalian dari ilmu kedokteran sedikit pun,  ilmu itu ada dua; ilmu agama dan ilmu badan. Maka Ali berkata : Allah telah mengumpulkan ilmu kedokteran semuanya pada setengah ayat di kitab kami. Maka ia bertanya ayat mana kah itu? ali menjawab itu adalah Firman Allah Azza wa Jalla "makanlah dan minumlah dan jangan berlebihan".

Selasa, 01 Desember 2020

Memetik Manfaat Puasa Ramadhan


Kebebasan kita dari kewajiban ibadah di bulan ramadhan adalah momentum untuk menyelamatkan diri kita dan ramadhan kita dari kecelakaan. Kata menyelamatkan berarti menjauhkan seseorang atau sesuatu dari kecelakaan, faktor pendorong seseorang mau menyelamatkan adalah anggapan terhadap keberhargaan seseorang atau sesuatu itu. Anggapan Keberhargaan itu muncul karena adanya manfaat yang dirasakan, dan ketertarikan terhadap suatu manfaat itu dapat timbul karena adanya pengetahuan terhadap objek tersebut. Demikian pula ramadhan bulan yang penuh manfaat bagi manusia hanya dapat diselamatkan oleh manusia yang mengganggap ramadhan berharga karena adanya manfaat yang dapat diterimanya berdasarkan pengetahuan yang didapatkannya.

من أدرك شهر رمضان و صام نهاره و قام ليلته ثم مات و لم يغفر له فدخل النار فأبعده الله. البيهقي.

Seseorang sampai pada bulan Ramadhan, ia shaum di siang harinya dan shalat qiyam ramadhan malam harinya kemudian Ia meninggal dan Ia tidak diampuni(dosanya) lalu masuk neraka, kemudian Allah menjauhkannya.

Imam al-Ghajali menyebutkan, orang yang shaum dengan masih melakukan ma,siat, seperti yang membangun gedung lalu ia hancurkan.

قال الغزالي: من يعصي الله و هو صائم كمن يبني قصرا و يهدم مصرا

Al-Ghajali berkata: siapa yang berma’shiat kepada Allah sedangkan  ia Shaum, seperti orang yang membangun gedung, lalu ia hancurkan kota.

Tidak setiap muslim berpuasa, dan tidak semua yang berpuasa akan diterima amalannya oleh Allah SWT. Karena hanya orang yang bertaqwa lah yang akan diterima.

... قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (27

...Habil berkata : sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.[ QS. al maidah 27]

Ibnu Dinar berkata : ‘kekhawatiran terhadap amalan yang tidak diterima lebih besar daripada amalan itu sendiri”.Abdul aziz bin rawad pernah berkata : “aku mendapati mereka  [salafus-shalih] bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shaleh. Namun saat mereka telah melakukan amal shaleh itu dengan sungguh-sungguh, muncul kekhawatiran dalam hati mereka , ‘apakah amalannya diterima atau tidak’.

Mengapa harus ada harapan agar amal kita diterima...hal ini dikarenakan hanya amal yang diterima sajalah yang akan memberikan manfaat bagi pelakunya. Lalu kapankah manfaat dari amalan ramadhan kita akan dipetik manfaatnya, hal ini telah diutarakan dalam al-quran  mengenai salah satu prosesi yang harus diimani adalah hari perhitungan [yaumul hisab].Salah satu ayat yang menggambarkan hari perhitungan adalah sebagai berikut :

ﻭَﻧَﻀَﻊُ ﺍﻟْﻤَﻮَﺍﺯِﻳﻦَ ﺍﻟْﻘِﺴْﻂَ ﻟِﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻓَﻠَﺎ ﺗُﻈْﻠَﻢُ ﻧَﻔْﺲٌ ﺷَﻴْﺌًﺎۖ ﻭَ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﺜْﻘَﺎﻝَ ﺣَﺒَّﺔٍ ﻣِﻦْ ﺧَﺮْﺩَﻝٍ ﺃَﺗَﻴْﻨَﺎ ﺑِﻬَﺎۗ ﻭَﻛَﻔَﻰٰ ﺑِﻨَﺎ ﺣَﺎﺳِﺒِﻴﻦَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.( 21:47 ‏)

Di hari kiamat kelak ada beberapa nasib umat islam terhadap timbangan amalnya ;

1. Mereka yang timbangan amal buruknya lebih berat dari pada amal baiknya. Pada kondisi ini, shaum akan memberi manfaat menghapuskan dosa-dosa dari amal buruknya sehingga secara otomatis amal kebaikannya akan menjadi lebih berat.

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ

“Fitnah (kelalaian) seseorang pada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dilebur dengan shalat, puasa dan sedekah. HR. al-Bukhari dari Hudzaifah bin al-Yaman. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 310

2. Mereka yang timbangan amal buruknya seimbang dengan amal baiknya. Pada kondisi ini, shaum akan memberi manfaat syafaat sehingga amal kebaikannya akan menjadi lebih berat dan ia layak masuk ke dalam surga.

اَلصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. يَقُوْلُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ. وَيَقُوْلُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِيْ فِيْهِ

“Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada Hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya.’ Al-Qur`an berkata, ‘Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka izinkan aku memberi syafa’at kepadanya. [HR. Ahmad no. 6626 dari Ibnu Umar]

3. Mereka yang timbangan amal baiknya lebih berat daripada amal buruknya. Pada kondisi ini, shaum akan memberi keistimewaan melalui penghargaan masuk surga khusus melalui pintu royyan.

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut. [HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152 dari ‘Abdullan bin ‘Amr]

Tentunya tidak semua shaum akan memberikan manfaat bagi pelakunya karena Rasulullah SAW telah jauh-jauh hari memberikan peringatan kepada kita

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta bahkan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan. [HR. Al-Bukhariy no.190 dari Abu Hurairah]

Keberhargaan shaum walau pun satu hari digambarkan sebagaimana keterangan di bawah ini :

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا لَمْ يَقْضِهِ أَبَدًا طُولُ الدَّهْرِ

Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhân dengan sengaja, berpuasa setahun penuh tidak bisa menggantinya”. [Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, 6/184 dari Ali bin Abi Thâlib]







Rabu, 25 November 2020

MENGOBATI DENGAN AL-QURAN

          Untuk pemaparan dalam bentuk video klik Tonton Video              


                     Oleh: Miftah Husni

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58) }

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ”Dengan karunia Allah dan rahmat­nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 57-58)

         Ayat ini tidak menjadi dalil bahwa Al-Qur’an dapat digunakan sebagai pengobatan fisik, baik itu dengan menggunakan lafadznya, atau pun tulisannya, karena penjelasannya sangat jelas bahwa penyakit yang dimaksud adalah penyakit yang ada di dalam hati. Walau pun demikian ayat ini juga tidak menafikan bahwa Al-Qur’an dapat menyembuhkan penyakit fisik hanya pemahaman caranya lah yang harus benar. Ilustrasi sederhana ketika seseorang mengalami sakit kepala namun dokter memberikan obat yang dimakan masuk ke perut, tidak seperti obat gosok atau pereda nyeri seperti minyak angin yang langsung ke kepala.

    Hal ini mengindikasikan bahwa ada proses yang lain dimana obat menyembuhkan penyebab dari sakit kepala itu, karena bisa jadi sakit kepala tersebut disebabka oleh asam lambung yang naik. Demikian pula al-Quran dapat menyembuhkan penyebab sakitnya fisik karena al-Quran mengobati sumber penyakitnya yaitu di dalam hati. Sebagai contoh penyakit diabetes tipe 2 bisa diakibatkan karena stress dapat meningkatkan kadar glukosa darah. stres juga secara langsung dapat meningkatkan denyut jantung dan aliran darah, sehingga menyebabkan pelepasan kolesterol dan trigliserida ke dalam aliran darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung.

Perihal kandungan ayat ini sama dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:

{وَنُنزلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا}

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra: 82)

{قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ}

Katakanlah, "Al-Qur'an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman." (Fushshilat: 44), hingga akhir ayat.

    Kalimat seruan yang digunakan adalah “ya ayyuha nas” wahai manusia, tidak dikhusukan dengan orang-orang yang beriman, mafhumnya adalah bahwa orang-orang yang beriman harusnya sudah bebas dari penyakit-penyakit itu karena mereka telah menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan menghilangkan keraguan yang menjadi penyakit yang vital bagi hati-hati mereka.

      Ayat ini juga menunjukkan bahwa mereka yang masuk surga adalah orang-orang yang sehat yang sudah terhindar dari penyakit karena mereka mempelajari, mengkaji, mengamalkan dan mendakwahkan al-Quran sehingga hati-hati mereka terhindar dari segala penyakit. Jika di akhirat kelak masih ada penyakit hati, maka api neraka lah yang akan membersihkan penyakit-penyakit hati tersebut.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْر

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi…” (HR. Muslim no. 91)

    Yang dimaksud dari al mau`izhoh adalah dalam bentuk perintah dan larangan, yang berhubungan dengan “pemberian motivasi dan berita gembira” dan “peringatan yang menakutkan dan berita ancaman” (targhiib dan tarhiib), perkataan yang benar (qaulul haq) yang melunakkan hati dan membekas dalam jiwa, dapat menahan gejolak hawa nafsu yang membangkang, dan menambah jiwa menjadi terdidik baik secara iman maupun hidayah. (Ibnu Taimiyah, dalam Majmu` Fatawa, 19:164, Miftah Daar as Sa`adah-Ibnul Qayyim, 1: 195, juga dalam kitab Tafsirnya hal. 344).

Allah Ta`ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَ أَشَدَّ تَثْبِيْتًا (النساء: 66)

Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan iman mereka. (an-Nisa: 66),

يَعِظُكُمُ اللهُ أَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ (النور: 17)

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang yang beriman. (An-Nur: 17)

Kalimat lain yang digunakan untuk peringatan adalah kalimat nasihat seperti di dalam hadits :

عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيْمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِي رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 55]

    Asal arti nasihat itu adalah menyaring, maka al-Quran juga berarti menyaring, memisahkan yang haq dan yang batil, yang benar dan salah, bagaimana caranya, adalah melalui perintah terhadap kebaikan dan kebenaran, karena semua yang diperintahkan nya adalah baik dan benar dan juga dengan cara melarang terhadap keburukan karena semua yang dilarangnya adalah buruk walaupun disukai manusia.

        Menurut Imam Ibnu Katsir, makna Qur’an sebagai nasehat dan pelajaran adalah, “zajir ‘anil fawahisy; melarang dari perbuatan keji”. (Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 3/1380). Syekh As Sa’di menambahkan penjelasan yang lebih rinci tentang makna mau’idzah yang diperankan oleh al-Qur’an, yakni menasehati dan memperingatkan dari berbagai amal perbuatan yang mengundang murka Allah dan berkonsekuensi pada turunnya adzab-Nya dengan disertai penjelasan akan dampak buruk dan mafsadat dari perbuatan tersebut”. (Lih, Tafsir As Sa’di, hlm. 213-214 .

      Sifat al-Qur’an berikutnya yang disebutkan dalam ayat di atas adalah asy-Syifa. Penawar atau penyembuh bagi (penyakit) yang ada di dalam dada. Menurut para Mufassir bahwa makna dada dalam ayat ini adalah hati. Sehingga mereka menafsirkan bahwa fungsi dan peran Al-Qur’an sebagai syifa’ (penawar dan penyembuh) adalah, “obat penyembuh dari penyakit syubhat dan keragu-raguan”. (Tafsir Ibn Katsir,3/1380). Jadi syifa yang dikandung oleh Al-Qur’an  meliputi kesembuhan bagi (penyakit) hati berupa syubhat, jahalah (kebodohan), pendapat atau pandangan yang keliru (al-ara al-fasidah), penyimpangan yang buruk, serta maksud dan tujuan yang jelek.

        Kalaulah fungsi al-Quran sudah dirasakan dengan baik, maka persepsi dan orientasi hidup manusia akan melangit tidak lagi tertuju kepada bumi, harta benda dan segala isinya. Inilah yang Allah katakana dalam ayat kedua. Sebuah riwayat menjelaskan bagaimana para sahabat merasakan keutamaan kedua ayat ini sebagai berikut:

Ketika  kaum Muslimin berhasil membuka negeri Iraq pada masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khathab  radhiyallahu ‘anhu, mereka memperoleh berbagai ghanimah (rampasan perang). Ketika kharaj Iraq diserahkan kepada Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu sebagai Khalifah, beliau keluar bersama budaknya untuk menerima Kharaj tersebut. Beliau mulai menghitung Onta hasil rampasan perang yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ini ternyata jumlahnya sangat banyak, sembari menghitung beliau terus menggumamkan puji dan syukur pada Allah. “Alhamdulillah Lillahi Ta’ala”, ucapnya. Menyambut sikap ini budak beliau mengatakan, “Ini adalah fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya”. “kamu berdusta”, sambut Umar. “Bukan ini”, lanjutnya. Karunia dan rahmat Allah yang sesungguhnya adalah yang dikatakan oleh Allah, “katakan! Dengan karunia Allah dan rahmat-Nyalah hendakanya mereka bergembira, ia lebih lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (terj.Qs. Yunus [10]:58).

        Fragmen di atas dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an al-Adzim ketika menjelaskan tafsir ayat 57-58 surat Yunus yang dibahas dalam tulisan ini. Melalui penggalan kisah ini pula Amirul Mu’minin mengajari kita bagaimana menempatkan perbandingan antara kekayaan materi duniawi dengan karunia Allah berupa ni’mat Al-Qur’an pada posisi yang adil. Bahwa nikmat al-Qur’an lebih baik dari berbagai sisi dibanding seluruh perbendaharaan dunia dengan segala pernak-perniknya yang fana dan akan hilang.


وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ الْمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ ... فَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُورِ قُبُورُ

Dan pada kebodohan itu ada kematian sebelum orangnya mati...maka jasadnya seperti sudah masuk kuburan sebelum dikubur 


وَإِنَّ امْرَأً لَمْ يَحْيَ بِالْعِلْمِ مَيِّتٌ ... فَلَيْسَ لَهُ حَتَّى النُّشُورِ نُشُورُ

Dan sesunguhnya orang yang tidak hidup dengan ilmu maka pada dasarnya ia telah mati...maka tidak ada baginya amal yang dikumpulkan sampai hari berkumpulnya Manusia

(Syair ahli Bashrah dalam tafsir al - Qurtubhi surat Al- An 'am : 122)

baca juga :Membaca Al Quran meningkatkan imunitas Tubuh

Kamis, 09 Januari 2020

WANITA DAN SETAN


Untuk pemaparan dalam bentuk video silahkan klik Tonton Video


Miftah Husni

     Wanita, dalam persepsi kultural (Jawa) dipahami sebagai “wani ditata”, berani ditata, atau bersedia diatur (oleh pria). Feodalisme dalam kata “wanita” sangat tampak, yakni bahwa pria adalah pihak yangmemiliki kuasa penuh atas wanita. Wanita adalah sosok yang ‘menjadi’ sebagaimana diinginkan pria. Kata wanita juga berasal dari kata bonita yang berasal dari kata betina merupakan jenis lain dari jantan pada binatang., disebut betina karena betina mempunyai kemampuan untuk memikat lawan jantannya dengan berbagai kemampuan dan berbagai kepemilikannya.

Sedangkan perempuan, berasaldari kata “empu” yang berarti tuan, orang yang mahir,berkuasa, hulu, atau yang paling besar. Kata perempuan berhubungan dengan “ampu sokong”, yakni memerintah, penyangga, penjaga keselamatan, bahkan wali. Perempuan seakar juga dengan kata Puan, yang merupakan sapaan hormat kaum hawa. Merupakan pasangan kata Tuan bagi laki-laki. Oleh karena itu perempuan sejajar dengan laki-laki. Bahkan lebih tinggi karena “empu”nya. Dalam kesusastraan Melayu Klasik kita mengenal kata EMPUAN yang juga berarti "perempuan" yakni sebuatan bagi istri raja. Mungkin dari situlah muncul kata PEREMPUAN yang lebih kurang berarti "orang yang dimuliakan atau yang dihormati".

        Dalam al Qur’an, kata yang bermakna perempuan disebutkan dengan istilah-istilah semacam mar’ah, imra’ah, nisa’, dan untsa. Dari bermacam-macam kata ini akan terperas makna yang berbeda-beda. Seperti mar’ah yang sangat dekat asal katanya dengan mir’ah (cermin).Berarti perempuan adalah wanita yang suka berhias.Kata yang selanjutnya adalah Nisa.Yang terambil dari nasiya, atau artinya lupa.Atau bisa diartikan memiliki kelemahan. Kata Nisa sendiri kalau diteliti dari Philology arab akan berarti penghibur. Bahkan di hadist sudah disampaikan bahwa dunia ini tempat kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan adalah perempuan sholeha yang mampu menghibur hati.Bahkan kata nisa juga dapat berarti tenang hatinya.Kenyataannya tidak ada peredam amarah laki-laki yang paling mujarab selain perempuan. Lebih jauh lagi untuk memahami perempuan bisa dilihat dari kata untsa yang mempunyai arti lemah lembut dan halus perkataannya.

Perempuan Dalam Persepsi Agama Islam

        Dalam sebuah keterangan dikatakan“Perempuan seperti setan, tetapi jika kamu mendidiknya ia bagaikan malaikat”. Dari keterangan di atas, tampak jelas terdapat kecenderungan yang sama antara wanita dan setan, kesamaan itu berkaitan dengan godaan yang dimililki keduanya untuk menjerumuskan sang pihak tergoda ke dalam perbuatan dosa. Bahkan Nabi Yusuf AS, juga menyatakan bagaimana besarnya godaan wanita sebagaimana direkam dalam ayat berikut :
ﺇِﻥَّ ﻛَﻴْﺪَﻛُﻦَّ ﻋَﻈِﻴﻢٌ
“Sesungguhnya godaan kalian wahai para wanita begitu besar.” (Yusuf: 28)

Berbeda dengan wanita, justru godaan setan disebutkan lemah sebagaimana dalam ayat berikut :
ﺇِﻥَّ ﻛَﻴْﺪَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﻛَﺎﻥَ ﺿَﻌِﻴﻔًﺎ
“Sesungguhnya godaan setan itu lemah.” (An-Nisa: 76)

    Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata : “Ayat yang mulia ini (An-Nisa: 76), apabila dipadukan dengan ayat yang lain (Yusuf: 28), maka hasilnya adalah penjelasan bahwa godaan wanita lebih dahsyat dibanding godaan setan.” [Adhwaul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 2/217]. Asy-Syaikh AbdurRahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata : “Godaan adalah menempuh cara-cara yang samar dalam membahayakan musuh. Maka setan, meskipun godaannya telah sedemikian rupa akan tetapi godaannya sangat lemah.” [Taysirul Karimir Rahman, hal. 187]

Jadi, bukan difahami bahwa perempuan adalah setan namun yang dimaksud adalah mudahnya setan menjadikan perempuan sebagai wasilah dosa dan kesalahan melalui godaan perempuan. Hal ini sebagaimana diutarakan dalam sebuah hadits :

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا أَقْرَبُ مَا يَكُونُ إِلَى اللَّهِ وَهِيَ فِي قَعْرِ بَيْتِهَا

“Wanita adalah aurat, dan apabila ia keluar dari rumahnya maka setan akan menghiasinya, dan sesungguhnya seorang wanita lebih dekat kepada Allah ta’ala ketika ia berada di dalam rumahnya.” [HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabarani, dan lafaz ini milik beliau, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 2688]

Al-Imam Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata,
ﺃَﻱْ ﺯَﻳَّﻨَﻬَﺎ ﻓِﻲ ﻧَﻈَﺮِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻭَﻗِﻴﻞَ ﺃَﻱْ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻟِﻴُﻐْﻮِﻳَﻬَﺎ ﻭَﻳُﻐْﻮِﻱَ ﺑِﻬَﺎ

“Maknanya adalah setan menghiasi wanita di mata laki-laki. Juga dikatakan maknanya adalah setan melihat wanita tersebut untuk menyesatkannya dan menyesatkan laki-laki dengannya.” [Tuhfatul Ahwadzi, 4/283]

Tak heran jika perintah kepada setiap wanita untuk mengenakan hijab atau jilbab (QS. al-Ahzâb: 59 & an-Nûr: 30-31), dan melarang untuk tabarruj adalah salah satu perintah solutif Islam. Dalam surat an-Nisâ ayat 34, Allah menerangkan ciri-ciri wanita shalihah, diantaranya yaitu, fashshâlihâtu qânitâtun. Wanita yang sholehah adalah wanita yang taat (qânitât) kepada Allah dan suaminya. Dengan demikian, salah satu identitas muslimah yang paling fundamental adalah hijab, karena hijab merupakan perintah Allah. Konsekwensi logisnya, jika ingin tergolong wanita shalihah maka harus mentaati perintah Allah.

Pertanyaannya wanita seperti apa yang melebihi dahsyatnya godaan setan? Hal ini tentu wanita yang disebutkan pertama yaitu wanita yang belum mendapat pendidikan. Untuk itu, wanita harus mendapat pendidikan dalam rangka menghilangkan pengaruh dominasi bisikan setan dan memperkuat pengaruh dominasi bisikan malaikat. Pendidikan yang harus didapatkan seorang perempuan dalam islam terdiri dari empat bagian :

1.      Pendidikan jismiyyah [fisik]
2.      Pendidikan ‘Aqliyyah [kognitif]
3.      Pendidikan khuluqiyyah [akhlaq]
4.      Pendidikan dzauqiyyah [emosi]

        Melalui pendidikan inilah Islam membentuk perempuan yang shalihah menjadi perhiasan dunia yang paling indah. Lalu menjadi tanggung jawab siapakah pendidikan bagi kaum perempuan ini ?. Karena perempuan berada dalam tanggungan laki-laki maka sesuai dengan kedudukan keterikatan tanggung jawabnya dalam pendidikan ada pada pundak laki-laki sebagai ayah, kakak dan adik laki-laki, suami bahkan masyarakat luas dalam artian pemerintah, warga negara dan lainnya jika tidak ada secara langsung kaum laki-laki yang terikat secara langsung terhadap pendidikan perempuan tersebut untuk menjadikannya perempuan yang shalihah.   Hal ini dikarenakan keshalihan perempuan standarnya berbeda dengan laki-laki [at-tahrim: 6], keshalihanya terikat dengan kedudukannya sebagai seorang anak, istri dan ibu. Dengan demikian standar keshalihannya dapat terlihat dengan melihat kedudukannya. Rasulullah SAW bersabda;

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita shalihah"(HR. Muslim no 1467)

عَنْ أَبِي أُمَامَةعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِه (رواه ابن مجاه)

dari Abi Umamah dari Nabi SAW sesungguhnya bersabda: ‘’ Tidak ada keberuntungan bagi seorang mukmin setelah bertaqwa kepada Alloh kecuali memiliki seorang istri yang Sholih. Yang bila disuruh, menurut dan bila di pandang menyenangkan, dan bila janji menepati, dan bila ditinggal pergi bias menjaga diri dan harta suaminya.” (HR. IbnuMajah)

Model Perempuan Shalihah Sepanjang Masa

        Cara mudah untuk menjadi sesuatu adalah menirunya, oleh karena itu, model perempuan shalihah sepanjang masa sudah diterangkan oleh Rasul agar mudah ditiru sekaligus menjadi bukti bahwa perempuan mana pun mempunyai peluang mencapai kesempurnaan keshalihannya sebagaimana model yang disebutkan Rasul berikut ini :

خَيْرُ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ : مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

“Wanita paling baik di alam semesta (ada 4): Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan Asiyah istri Fir’aun.”(HR. Ahmad, thabrani, hakim, thahawidalamshahih Al jami’ As Saghir no. 1135 dansilsilahhadits al-shahih no. 1508)


A.    Maryam binti Imran

    Maryam binti Imran lahir dari keturunan pemuka Bani Israil ia sabar dengan ujian Allah yang menganugerahkan Maryam mengandung nabi Isa As (lihat Q.s maryam 16-17, al-anbiya: 89-91), sementara Maryam masih gadis dan tidak punya suami, rasionalnya tidak mungkin.

B.     Khadijah Binti Khuwailid.

        Khadijah menurut riwayat ibnu ‘l-atsir dan Ibnu hisyam, adalah seorang wanita pedagang yang mulia dan kaya. Beliau digelar dengan nama ‘Afifah Thahirah (wanita suci). Tentang Khadijah Rasulullah bersabda yang artinya:”….Ia beriman padaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manusia menahan hartanya….” (HR. Ahmad)

C.    Fatimah binti Muhammad.

        Fatimah binti Muhammad adalah putri bungsu Rasulullah. Beliau adalah sosok putri yang sangat patuh dan hormat pada orang tuanya, bahkan ada sebuah riwayat menyebutkan saat beliau kecil, beliau berani mencegah kaum kafir saat mendhalimi ayahnya.

hadis Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I halaman 518 , Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI halaman 282, Mustadrak Al Hakim jilid III halaman 156, Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Wahai Fatimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari umat ini atau wanita mukmin.”

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِنْ رُوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.[QS. At-Tahrim; 12]

D.    Asiyah binti Mazahim istri Firaun

Aisyah binti Mazahim adalah istri fir’aun, yang kita ketahui lewat sejarah dan sirah Fir’aun.

وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّى وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

“(Dia) penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahhan dia bermanfaat kepada kita atau kita ambil dia menjadi anak, sedang mereka tidak menyadari”.[qs. al-Qashash ayat 9]

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim” [QS. At-Tahrim; 11]

        Jika dilihat dari peranannya sebagai seorang perempuan, hemat penulis, model istri terbaik ada pada Khadijah Binti Khuwailid, sedangkan figur ibu terbaik ada pada Maryam binti Imran, dan figur anak perempuan terbaik ada pada Fatimah Binti Muhammad SAW. Lalu model apa yang terbaik dari peranan Asiyah binti Mazahim istri Firaun? Ini lah model yang juga luar biasa sebagai model ibu sambung dari Nabiyullah Musa AS.

Penutup

        Dari uraian di atas maka pembiaran terhadap pendidikan perempuan menurut Islam bukan akan menjadi perhiasan yang paling indah, namun hanya akan membawa bencana yang paling berbahaya, dan itu sudah diwanti-wanti jauh-jauh hari oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :

{ مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ }

Aku tidak meninggalkan fitnah/bencana yang lebih berbahaya atas kaum lelaki (selain bahaya fitnah) dari perempuan. (Al-Fath juz 9 , Hadits 5096, dan Muslim juz 18 hal 54)



Senin, 06 Januari 2020

Maka Hendaklah Manusia Memperhatikan dari apa ia diciptakan!


Oleh : Miftah Husni

    Ayat tersebut terdapat dalam surat At-Thariq : 5, ayat ini mengingatkan betapa lemahnya asal kejadiannya, sekaligus membimbing nya untuk mengakui adanya hari kemudian yaitu hari berbangkit. Karena sesungguhnya Allah yang mampu menciptakannya dari semula mampu pula untuk mengembalikannya seperti keadaan semula, bahkan lebih mudah.

        Salah satu fase penciptaan manusia diungkapkan dan menjadi nama surat  yang kita kenal dengan al-‘Alaq, sebagaimana bunyi ayat kedua :خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ yang berarti Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Setelah melalui fase nuthfah, embrio manusia akan kemudian masuk ke dalam tahapan yang disebut ‘alaqah. Kata ‘alaqah dalam bahasa Arab memiliki sejumlah makna. Pertama, ‘alaqah merupakan bentuk turunan dari kata ‘alaqa dan bermakna sebagai “sesuatu yang melekat dan menggantung pada sesuatu yang lain”. Makna kedua, kata ‘alaqah juga memiliki makna sebagai lintah.  Makna ketiga, kata ‘alaqah juga memiliki arti sebagai segumpal darah.

Manusia diciptakan Allah SWT dari ‘alaq yang berarti sesuatu yang tergantung, kata ‘alaq juga dapat berarti ketergantungan manusia kepada pihak lain. Ia sulit hidup tanpa bergantung kepada orang lain. Makanya ia membutuhkan orang lain untuk memudahkan hidupnya.

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. [Surat Az-Zukhruf Ayat 32]

Manusia tergantung kepada yang lain karena manusia sekuat apapun mempunyai kelemahan, bahkan terkadang apa yang disangka sebagai suatu kekuatan sebenarnya adalah kelemahan bagi dia.

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.[ an-nisa;28]

KELEMAHAN MANUSIA

        Tubuh manusia adalah organisme lemah yang terdiri dari tulang dan daging dengan berat rata-rata 70-80 kg .Hanya kulit yang lemah melindunginya. Tidak diragukan, kulit yang sensitif ini dapat dengan mudah terluka dan memar.Ia menjadi pecah-pecah dan kering ketika terlalu lama terkena sinar matahari atau angin. Untuk bertahan terhadap berbagai gejala alam, manusia harus berjaga-jaga terhadap dampak lingkungan. Untuk senantiasa mengingatkan kepada Allah, manusia acap kali merasakan kebutuhan pokok tubuhnya. Jika terkena cuaca dingin, misalnya, ia mengalami risiko kesehatan; sistem kekebalan tubuhnya perlahan-lahan “jatuh”. Pada saat tersebut, tubuhnya mungkin tidak dapat menjaga temperatur tubuh konstannya (37ºC) yang penting untuk kesehatan yang baik.Laju jantungnya melambat, pembuluh-pembuluh darahnya berkontraksi, dan tekanan darah meningkat. Tubuhnya mulai menggigil sebagai cara untuk mendapatkan panas kembali. Penurunan suhu tubuh pada 35ºC diiringi tekanan denyut nadi dan kontraksi pembuluh darah di lengan, kaki, dan jari-jari menandakan kondisi yang mengancam jiwa.

Seseorang dengan suhu tubuh 35ºC menderita disorientasi sangat parah dan terus-menerus tertidur. Fungsi-fungsi mental melambat. Sedikit saja penurunan suhu tubuh membawa konsekuensi demikian, tetapi lebih banyak terkena cuaca dingin, yang menyebabkan suhu tubuh di bawah 33ºC, akan mengakibatkan hilangnya kesadaran. Pada 24ºC, sistem pernafasan tidak berfungsi. Otak mengalami kerusakan pada 20ºC dan akhirnya jantung berhenti pada 19ºC dengan membawa akhir yang tidak dapat dihindari: kematian

KEBUTUHAN JASADI

Manusia dihadapkan pada banyak risiko fisik. Lebih jauh, seseorang tidak dapat tetap bersih untuk waktu yang lama. Setelah beberapa jam, tidak satu pun yang tersisa dari kesegaran yang diberikan oleh mandi: kita hanya dapat menjaga tetap bersih untuk waktu yang relatif singkat.

Di samping seluruh kebutuhan tubuh mengenai kebersihan, nutrisi juga penting bagi kesehatan. Syarat yang malah lebih penting lagi untuk hidup adalah, tentu saja, air. Seorang manusia dapat bertahan hidup tanpa makanan untuk beberapa periode tertentu, namun beberapa hari tanpa air akan berakibat fatal. Seluruh fungsi kimia tubuh berlangsung dengan pertolongan air; air adalah penting bagi kehidupan.bagian yang dijelaskan sebelumnya adalah kelemahan yang dapat diamati seseorang pada tubuhnya sendiri. Namun tersisa sebuah pertanyaan: apakah kita semua menyadari bahwa ini adalah kelemahan? Alternatifnya, apakah kita berpikir bahwa ini adalah “alami”

LIMA BELAS TAHUN TANPA “KESADARAN”

Setiap manusia harus menghabiskan sebagian waktu hariannya untuk tidur.. Jika dinilai dari sisi ini, kita menjumpai gambaran yang mengejutkan: ¼ dari rata-rata 60 tahun kehidupan dihabiskan dalam ketidaksadaran total. Jika manusia tidak tidur maka yang terjadi matanya akan menjadi merah dan warna kulitnya memucat. Jika jangka waktu tidak tidurnya bertambah, ia akan kehilangan kesadaran.

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. Al An’aam, 6: 60)

Allah memegang jiwa ketika matinya dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (QS. Az-Zumar, 39: 42)

fakta ini, tidak pernah menyadari bahwa ia meninggalkan segala yang dianggap penting di dunia ini. Kesimpulannya, yang tersisa dari sebuah hidup yang “panjang” hanyalah 3-5 tahun. Apa nilai penting hidup yang pendek tersebut dibandingkan dengan yang abadi?

PENYAKIT DAN KECELAKAAN

Penyakit juga mengingatkan manusia bagaimana mudahnya ia menjadi lemah. Tubuh, yang sangat terlindung dari seluruh jenis ancaman luar, rusak berat oleh virus yang sepele, agen pembawa penyakit yang tak terlihat mata. Sebagai contoh, pada tahun 1918, 25 juta manusia meninggal karena influensa. Sama halnya, tahun 1995, sebuah epidemi merenggut 30 ribu nyawa, dengan kerugian terbesar di Jerman.Selain penyakit, kecelakaan merupakan ancaman yang serius terhadap manusia.

KONSEKUENSI DARI PENYAKIT DAN MUSIBAH

Kesukaran demikian memperkuat kesetiaan orang-orang yang beriman kepada Pencipta mereka dan menegakkan mereka dalam kedewasaan. Karena itulah setiap penderitaan adalah “keberuntungan”.

Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. Ali ‘Imran, 3: 178)

TAHUN-TAHUN TERAKHIR KEHIDUPAN

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. Ar-Ruum, 30: 54)

Tahun-tahun terakhir kehidupan adalah waktu yang paling diabaikan dalam rencana masa depan seorang dewasa, kecuali di dalam proses menabung untuk pensiun hari tua yang mencemaskan.

“Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hingga panjanglah umur mereka.” (QS. Al Anbiyaa’, 21: 44)

Gagasan keliru ini seringkali membawa kepada kesedihan besar. Ini karena tak peduli berapa pun tuanya seseorang, milik nyata yang tersisa dari masa lalunya hanyalah kenangan yang teringat samar-samar. Oleh karena itu, manusia hendaknya mengesampingkan prasangkanya dan lebih realistik tentang hidupnya.

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS. An-Nahl, 16: 70)

Dalam kedokteran, usia lanjut juga disebut “masa kanak-kanak kedua”. Oleh sebab itu, selama tahap kehidupan akhir ini, orang-orang tua seperti anak-anak, membutuhkan perawatan, karena fungsi-fungsi tubuh dan mental mereka telah mengalami perubahan-perubahan tertentu.Begitu seseorang menjadi tua, berbagai karakteristik fisik dan kejiwaan menjadi semakin jelas.

BERBAGAI MASALAH FISIK YANG BERKAITAN DENGAN UMUR

Kulit merupakan faktor penting yang menentukan penampilan seseorang. Begitu seseorang menua, kulit kehilangan struktur elastisnya karena protein-protein struktural yang membentuk “kerangka” dari lapisan dasar kulit menjadi sensitif dan lemah. Karena inilah di wajah muncul keriput dan garis, mimpi buruk bagi banyak orang. Fungsi kelenjar-kelenjar minyak di lapisan atas kulit melambat, mengakibatkan kekeringan yang akut. Perlahan-lahan, tubuh terkena pengaruh-pengaruh luar karena permeabilitas kulit meningkat. Akibat proses ini, orang-orang lanjut usia menderita ketidakteraturan tidur yang berat, luka-luka luaran, dan rasa gatal yang disebut “rasa gatal usia tua”. Begitu pula, kerusakan terjadi pada lapisan-lapisan dasar kulit. Penggantian jaringan kulit dan mekanisme pertukaran zat gagal berfungsi, menyediakan landasan untuk tumbuhnya tumor.

Kekuatan tulang juga sangat penting bagi tubuh manusia. Gejala-gejala penuaan tak terbatas pada ini saja. Orang-orang lanjut usia lebih gampang mengalami kehilangan rasa karena sel-sel saraf berhenti memperbarui diri setelah usia tertentu. Setelah suatu periode hidup di mana manusia menganggap dirinya kuat secara fisik dan mental dan memandang seluruh dunia dari sudut pandangnya sendiri, dia tiba-tiba melalui suatu masa di mana dia kehilangan banyak hal yang sebelumnya ia nikmati.


KEMATIAN MANUSIA

Hidup makin menjauh detik demi detik. Sadarkah Anda bahwa setiap hari membawa anda semakin dekat kepada kematian, atau bahwa kematian itu sama dekatnya kepada anda sebagaimana pada orang lain?

Sebagaimana disebutkan di dalam ayat, “Setiap jiwa akan merasakan mati; kepada Kamilah engkau akan dikembalikan”, (QS Al Ankabuut, 27: 57)

Kebanyakan manusia menghindari berpikir tentang kematian.

Sejak detik Anda mengembuskan nafas terakhir, Anda akan menjadi tak lebih dari “seonggok daging”. Tubuh Anda yang diam dan tak bergerak, akan dibawa ke rumah mayat. Di sana , tubuh Anda akan dimandikan untuk terakhir kalinya. Dengan keadaan terbungkus kain kafan, jenazah Anda akan dibawa di dalam peti mati ke pemakaman. Begitu jenazah Anda berada di dalam kubur, tanah akan menutupi Anda. Inilah akhir dari kisah tentang Anda. Mulai sekarang, Anda hanyalah salah satu nama yang tertulis di nisan pekuburan.(QS. An-Nisaa’, 4: 78) 

Selama beberapa bulan dan tahun pertama, kuburan Anda akan sering dikunjungi. Seiring berjalannya waktu, makin sedikit orang yang datang. Sepuluh tahun kemudian, tak ada lagi yang datang.Sementara itu, anggota keluarga dekat Anda akan melalui segi lain dari kematian Anda. Di rumah, kamar dan tempat tidur Anda akan kosong. Setelah pemakaman, hanya sedikit barang-barang kepunyaan Anda yang akan disimpan di rumah: kebanyakan pakaian, sepatu, dan lain-lain milik Anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas Anda di kantor administrasi umum akan dihapus atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, sebagian orang akan berkabung untuk Anda. Namun, waktu akan mengikis kenangan yang Anda tinggalkan. Empat atau lima puluh tahun kemudian, hanya tinggal sedikit orang yang ingat akan Anda. Tak lama, generasi baru akan datang dan tidak seorang pun dari generasi Anda yang tersisa di muka bumi. Apakah Anda diingat atau tidak, tidak akan berharga bagi Anda.

Sementara semua ini berlangsung di muka bumi, jenazah di bawah tanah akan melalui proses pembusukan yang cepat. Segera setelah Anda berada di dalam kubur, bakteri dan serangga yang berkembang biak di dalam jenazah karena tiadanya oksigen akan mulai berfungsi. Gas-gas yang dikeluarkan dari organisme-organisme ini akan menggembungkan tubuh, mulai dari bagian perut, mengubah bentuk dan penampilannya. Busa bercampur darah akan meletup keluar dari mulut dan hidung karena tekanan gas-gas pada diafragma. Begitu proses perusakan ini terjadi, rambut tubuh, kuku, telapak tangan dan kaki akan rontok. Mengikuti perubahan luar ini, di dalam tubuh, organ-organ dalam seperti paru-paru, jantung, dan hati juga akan membusuk. Sementara itu, adegan yang paling mengerikan berlangsung di dalam perut, di mana kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas-gas dan tiba-tiba meletus, menyebarkan bau busuk yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan berlepasan dari tempat-tempat asalnya. Kulit dan jaringan-jaringan lunak akan hancur sama sekali. Otak akan membusuk dan mulai tampak seperti tanah liat. Proses ini akan terus berlanjut sampai seluruh tubuh tinggal kerangka.

Akhir yang dahsyat yang menunggu manusia seharusnya membuatnya mengakui bahwa dia bukanlah sesosok tubuh, tetapi sebentuk jiwa yang “berdiam” di dalam tubuh. Dengan kata lain, manusia harus mengakui bahwa dia memiliki keberadaan di luar tubuhnya.Lebih jauh lagi, manusia harus memahami kematian jasadnya yang ia coba miliki seolah ia akan abadi di dunia fana ini. Namun jasad ini, yang ia anggap teramat penting, akan membusuk dan dimakan cacing suatu hari dan akhirnya tinggal kerangka. Hari itu mungkin saja sangat dekat.

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. Al Ahzab, 33: 16)Manusia yang diciptakan dalam kesendirian hendaknya menyadari bahwa dia juga kan mati dalam kesendirian.

Dzikrul Maut #5

  (Kitab At-Tadzkiroh Bi Ahwali Mauta wa Umuri Akhirat/ Peringatan Tentang keadaan orang Mati dan urusan-urusan Akhirat/Imam Al Qurthubi) KO...